Thursday, February 03, 2011

Internet Saya, (Bukan) Hidup Saya

Saya seumuran dengan internet. Kami berdua sama-sama lahir tahun 1985. Meskipun sama tuanya (atau sama mudanya), kami baru berkenalan pada usia kira-kira 13 tahun. Sampai sekarang, kami masih terus berhubungan akrab. Bahkan, tidak pernah sedekat ini.

Ya, saya sangat dekat dengan internet. Di ranjang saya yang untuk dua orang, saya tidur di sisi kiri, dan internet tidur di sisi kanan. Sebelum tidur, di tangan saya ada internet. Baru buka mata, saya sudah melihat internet. Hampir sepanjang hari, saya terus berhubungan dengan internet. Tidak peduli melalui apa saya mengalami kehidupan internet; mau itu ponsel, laptop, komputer rumah, warnet; apapun itu, eksistensi saya bersama internet hanya dipisahkan oleh sesuatu yang sangat halus dan kasat mata.

Telah separuh hidup saya berlalu bersama internet. Di fase pra-internet, begitu saya menyebut 13 tahun pertama kehidupan saya, lebih banyak jenis indera saya yang tercetus oleh kondisi sekeliling. Begitu internet hadir, penglihatan dan perabaan saya jauh lebih meningkat aktivitasnya daripada indera-indera lain. Gaya hidup saya menjadi lebih visual, lebih tekstual, lebih berfokus pada kata. Di dunia saya, pesan audio dan video di internet masih berupa barang mewah, bahkan hingga detik ini. Tentu saja internet tidak sekedar huruf, gambar dan gerakan tetikus; kini lalu lintas audio dan video bahkan lebih ramai daripada Jakarta Pusat di hari Senin pagi. Tapi sekali lagi, mari kita kenyataannya: layanan-layanan jejaring sosial paling aktif di muka bumi seperti Twitter, Facebook, MySpace, dan segala rupa, masih mengutamakan penyampaian pesan melalui teks.

Lantas apa pentingnya ini? Memangnya kenapa kalau bentuk komunikasi yang paling jamak antara manusia-manusia internet sejagat raya, seperti saya, menjadi sangat tekstual? Yang penting ’kan pesannya sampai, ya tidak?

Ehm, tidak….

Lama kelamaan, setelah belasan tahun hidup bersama internet, yang lebih memanjakan mata dan jari saya ketimbang indera lain, saya sadar bahwa internet sebagai gaya hidup saya tidak lagi memadai dalam menjalankan fungsi komunikasi yang saya butuhkan. Contohnya begini. Dengan internet, saya sangat senang bisa membeli headphone idaman saya tanpa harus keluar rumah. Saya bisa membaca penilaian orang atas suatu merek dan jenis yang spesifik; saya bisa membandingkan harga di beberapa toko internet; saya bisa membayar hanya dengan mengetikkan beberapa angka yang tertera di kartu kredit saya; semua tanpa melangkahkan kaki. Dengan internet dalam genggaman saya, semua itu proses di atas bisa selesai lebih cepat daripada waktu mandi pagi saya.

Masalahnya, apa yang terjadi dengan kemampuan komunikasi nonverbal saya jika begini terus? Masihkah saya rela meluangkan waktu pergi ke toko, berbasa-basi dengan pemilik toko sambil menawar barangnya? Akankah saya bisa membaca raut mukanya saat dia memberi saya harga? Dapatkah saya merasakan sentuhan personal dari segelas air minum kemasan yang disuguhkan saat dia melihat saya datang ke tokonya dengan berpeluh-peluh akibat naik bis kota yang sangat padat?

Dengan internet? Sulit….

Katanya pesan verbal hanya menyampaikan sekitar 30% dari seluruh pesan yang dapat diterima manusia. Pesan verbal masih lagi terbagi dalam bentuk tekstual (kata) dan non tekstual (intonasi). Maka dari itulah, dengan ilmu komunikasi yang comot dari sana sini sekenanya, saya berkesimpulan bahwa komunikasi internet yang mayoritas sangat tekstual hanya dapat menyampaikan pesan saya paling banyak 15% dibandingkan dengan komunikasi tatap muka.

Lima belas persen saja? Bahkan dengan semua kemudahan-yang-mengubah-gaya-hidup ini? Maaf-maaf saja, saya enggan mengalokasikan waktu saya untuk berhubungan dengan orang lain dengan metode yang efektivitasnya cuma sebegitu kecil. Mulai saat ini, saya akan dan harus bisa menyapih diri saya dari internet. Saya akan dan harus bisa berlelah-lelah dan meminimalkan intervensi internet dalam hidup saya dan cara saya berkomunikasi.

Tapi saya juga tidak mau bercerai dengan internet sih….

----------------------------

( ditulis dalam rangka Bhinneka Blog Competition di http://www.bhinneka.com )

1 comment:

Anonymous said...

Setuju boss..

Internet nggak bisa menyampaikan pesan kontekstual,hanya tekstual..
Maka itulah, silaturahmi nyata wajib diperlukan..

Visit back,

http://blog.beswandjarum.com/arnissilvia