Sunday, November 08, 2009
Thursday, February 19, 2009
Myself or my earth: a selfish perspective
It's 2 a.m now and the insomnia kicks in already. The tipsy will attack me first thing in the morning and will continue to a severe migraine if I don't have a proper breakfast or brunch. To hell with those, anyway. As long as I can enjoy this fast and free campus wi-fi in this dead night, I wouldn't mind.
I went to a bookstore, a major one, this morning and I bought a book on radiology and a magazine on popular computer technology. So I paid for them, and packed the items in my backpack without any plastic bag. So what's the big deal? The big deal is what struck me right in the head only minutes afterward.
I've been buying stuff without taking the plastic bag with one exception: when I bought my monthly food supply at the nearest hypermarket. I've been carrying my personal trash when I couldn't find any disposal bin. I been using the same mineral bottle in my fridge and in my backpack for months. I walked for a distance my friend wouldn't.
I've been doing those stuff long before the DVD "An Inconvenient Truth" released by Mr. Al Gore. And I've been doing so silently, without talking to anyone about it, without telling anyone to do so 'cause I didn't know that I should.
It was a coward act, of course, doing those things silently. I was afraid that during the earlier time when I built the habit' cause there were only me. I didn't see anyone doing so. I was affraid of being different. The final result was that I've been creating a habit for myself but the effect of my habit has been canceled by MILLIONS of other people doing contrary to it.
Now I see the DVD has been released worldwide and won the Oscar for best documentary. Mr. Al Gore himself won the Nobel Prize. The money spent on campaign by Mr. Al Gore and his team has reached millions, if not billions, of dollars. And I still see garbage piling up next to my door, at the corners of my campus, along the sidewalks of the street i walk everyday; none has changed in my surrounding. It's because I remained silent.
I'm writing this as the end of my silence. My fear that I might be seen as a pompous smart-ass has vanished outside the bookstore I mentioned earlier. I will speak now with my mouth, my hands, my actions, and my writings. I will speak this:
-Watch the "An Incovenient Truth", if you haven't. It won an Oscar, for God's sake.
-Write the "things to do" at the end of the movie, and do some of it you are able to. Only some, not all.
-Convince your closest ones to watch it.
-Don't take plastic bags unless it's necessary to pack your own garbage later.
-Walk farther.
-Buy bicycle, not more motorbikes, or even more cars, or even more SUV's.
-Put some oxygen tank in your bicycle, or use the N95 respirator while going around if you live in smoky city like Mexico City, Bangkok, or Jakarta.
-Take the public transportation.
-Don't buy SUV if you don't need the power or the torque from such engine.
-Convince your superiors to approve duplex printing for official documents, and a 50% scaled down printing for drafts.
-Again, watch the end of the movie because they have more things there and it's arranged better than this nocturnal note.
So, start it from yourself. Be selfish. Our Earth is still salvable.
Monday, February 16, 2009
I was trying to enjoy the last hours of this weekend by watching some movie and what’s left in my PC was “Slumdog Millionaire,” a Bollywood movie. An almost typical movie about congenital hardships of life: you know, that kind of movie which shows main character’s various hardships throughout his / her lifetime until eventually they gain the ultimate prize for all those hardships.
First, I just need to look at myself and my surroundings as I type this word. A decent notebook on my lap, a set of gaming PC in front of me, a refrigerator to lean my back, a shelf full of brick-thick medical textbooks…, the list can be very long. The point is I have luxuries. I’m lucky enough to taste those luxuries.
Second, I look at my ID card: 23 years old and no job. No financial independence whatsoever. Plus, I will still be a student for the next 20 months. I’m a massively-big spender of someone else’s money. My roommate at high school has already earned decent money for himself, his beautiful wife and his lovely 3 years old daughter.
Conclusion: I’m not very far from the term “spoiled brat”.
You see, life rotates like a cart wheel. I’ve been regarding all these years as upturns. My artificial luxuries are not really downturns, are they? And what’s waiting for me all along the downturns? Will I be prepared for that?
Tuesday, October 14, 2008
Makassar: My culinary tradition
Saat mudik, ibu saya selalu bertanya, "Hari ini kamu mau makan apa, Nak?" Ibu saya bukannya jago masak, malah jarang terjun langsung ke dapur. Yang dimaksud dengan pertanyaan itu adalah makanan khas Makassar apa yang belum saya makan selama mudik kali itu. Apa sajakah itu? Mari kita telaah satu persatu.
Coto Makassar
Ini makanan khas utama, isinya seperti soto dengan kombinasi jeroan sapi yang dimakan bersama ketupat. Di Makassar, ada sangat banyak tempat yang menjual coto, tapi tradisi kuliner saya, Coto Gagak, berada di persimpangan Jl. Gagak-Jl. Kakatua. Saya cukup beruntung karena rumah saya di Jl. Kakatua jadi cukup dekat dari penjual coto itu. Ada juga Coto Sunggu, di kota Sungguminasa, kota tetangga Makassar, yang pasti selalu saya singgahi setelah ziarah ke kuburan kakek di Sungguminasa.
Bakso/Nyuknyang
Di Makassar juga banyak tempat yang menyediakan bakso yang enak. Yang paling terkenal Kios Ati Raja di Jl. Gn. Merapi. Ini juga tidak terlalu jauh dari rumah saya, cukup dengan 10 menit naik angkot disambung naik becak 5 menit (jalan kaki juga bisa, tapi pas pulangnya pasti lapar lagi :D).
Lumpia
Otak saya (dan banyak penduduk kota Makasar) selalu mengasosiasikan kata "lumpia" dan kata "Sulawesi". Lumpia buatan Lumpia Sulawesi di Jl. Lasinrang bagi saya paling enak karena renyahnya dan sambelnya yang khas. Di Jl. Lasinrang yang pendek dan sempit berjajar banyak toko yang menjadi "tradisi" yang sudah dikenal penduduk Makasar bertahun-tahun; selain Lumpia Sulawesi, ada toko mainan Sanrio, toko pernak-pernik remaja wanita CityOne, dll.
Es Pisang Ijo
Es pisang ijo yang menjadi tradisi kuliner saya bersumber dari sebuah restoran di Jl. Andalas, dekat Masjid Raya Makassar, namanya Warung Bravo. Waktu saya kecil, kami sekeluarga kadang makan bersama restoran ini dan menu favorit saya nasi campur. Saus campuran pisang ijo berupa kuah putih kental yang manis, sirup pisang ambon berwarna merah, dan kadang-kadang susu kental manis putih. Banyak yang mengatakan es pisang ijo bukan es pisang ijo tanpa sirup merah merek DHT yang hanya dijual di Makassar. Tidak mengherankan jika yang membangun mitos ini adalah staf pemasaran pabrik sirup DHT :D
Makanan laut
Warung makanan laut favorit keluarga saya ada di dekat Pantai Losari, pantai kebanggaan masyarakat Makassar. Namanya Restoran Lae-lae. Disana, pengunjung bisa memilih ikan/udang/cumi/dll segar yang ada di dekat pembakaran ikan yang harum berasap, dan menentukan pesanannya diolah seperti apa (rebus, goreng, bakar, dll). Setelah itu baru mencari tempat duduk.
Kue-kue
Yang selalu ada dalam bekal makanan saya saat kembali ke Jakarta adalah kue bolu. Toko kue langganan ayah saya adalah toko kue Adi Jaya, berada persis di sebelah Coto Sunggu, di Sungguminasa. Kadang-kadang saya juga membawa kue bolu dari toko ini ke Jakarta untuk paman saya yang tinggal di Bintaro.
Ssalah satu sahabat baik ibu saya sejak SMP jago masak. Kadang ibu saya cuma bilang ke sahabatnya itu bahwa saya sedang berada di Makassar, lalu 2-3 hari setelahnya saya pun disuruh mengambil kue di rumah sahabatnya itu. Rasanya seperti punya toko kue sendiri :D
Tentu saja, tidak ada yang lebih mendarah daging daripada masakan rumah; ikan rebus kuning dengan asam dicampur kecap manis, ikan bakar asin, sop kentang dan kacang merah, sop telur berkuah santan; terung bakar siram santan, tumis kangkung, soto Banjar a la ibu, dan apapun yang bisa ditemukan di kulkas pada jam 11 malam.
Sudah beberapa kali orangtua saya bertanya kapan saya akan membawa teman dari Jakarta untuk berlibur di rumah beberapa hari dan melanglang buana dalam tradisi kuliner Makassar. Tertarik?
Tuesday, September 02, 2008
Saturday
What do you do in a Saturday afternoon? Change your bed sheet. Get your laundry done. Just stay in bed. Listen to some chilled-out music. Hang out with friends in some overcrowded malls. Go somewhere with your families. Planning your perfect first date. Go to gallery. Try a new restaurant in town.
My Saturday afternoon is my gift and my curse. It’s a non allocated time in the perpetual cycle of weeks. Sometimes I miss Saturday very much like a boy waiting for his favorite toy. Sometimes I just can’t figure out what to do that I might stay in bed, swinging my pillow one side to another, try to maintain my 12 hours sleep.
I used to love Saturdays. When I was in elementary school, my parents used to take us to this renowned family diner every Saturday afternoon. They have a great fried chicken there. Even now I can taste the chicken sauce in my lips and my sister’s laughter. And then came high school. Saturdays are the most anticipated day because my high scool is a boarding school isolated in valleys, rivers, creeks, and endless dried rice fields. Saturday means a permission to leave the school until Sunday evening; permission to take a breath from harsh live of high school, pressure from seniors and academically demanding teachers.
My uncle said whatever things we do in our present times are investment to what we are in the future. Supposedly he is right, then so far I gain zero interest for my Saturdays. I don’t know what is the best thing to do in Saturdays. I don’t know what is the best thing to do with my later life. I see people do something from a single-numbered age until they reach more-numbered age and they become very good in that ”something”, they live in that ”something”. I sometimes find myself asking, ”What is my something, what is the thing that I’ve done for so long and become very good at it?” Well, to be honest, there is one thing: sleeping. I’m a famous classroom sleeper from high school until college. None of my classmates will disagree. But sleeping is not actually living, isn’t it?
Don’t get me wrong. I do have some nice Saturdays. Mostly it happen when I buy new video game title to play in my PC. Or some new DVD movie. Or go camping with some fellow in college. Or feel a bit adventurous and go to some new place alone. But that’s not the point. The point is if I can’t decide anything about one single day from seven days, how am I going to decide my times in life?
Friday, August 29, 2008
There's always a first time for everything...
Bagi saya, kalimat di atas itu bermakna luas sekali di medio 2008 ini. Waktu liburan kemarin, ada banyak hal yang baru pertama saya lakukan, dimulai dari naik taksi tengah malam dari bandara ke rumah (biasanya ortu memaksa menjemput meskipun saya bilang tidak usah; thanx Mom, Dad :D). Kemudian, saya juga mencoba pertamakali naik kendaraan air yang namanya jetski. Riding that thing feels like riding boom-boom car on water, except there's no cage or other vehicles to limit my speed. Pertamakali naik gokart di venue gokart pertama yang ada di Makassar. Pertamakali naik becak bersama ibu jam 10 malam hanya untuk beli gorengan di ujung jalan.
Juga, di medio 2008 ini, ada "pertamakali" lain yang terjadi dalam hidup saya. Saya sudah jadi siswa, sudah jadi bagian dari institusi pendidikan, selama 19 tahun dan ini pertamakalinya saya tinggal kelas.
Awalnya cukup berat bagi saya untuk mengakui bahwa saya sekarang seorang "veteran", istilah di kampus saya untuk orang yang tinggal kelas. Dulunya saya berpikir bahwa tinggal kelas adalah suatu aib. "Kalau bisa lulus lebih cepat, kenapa harus berlama-lama?" kata orang. Sampai beberapa tahun lalu, saya tidak menentang anggapan itu. Namun dalam beberapa tahun belakangan, sebelum saya sendiri yang mengalami tinggal kelas, apa yang saya lihat di kehidupan akademik mahasiswa menunjukkan bahwa anggapan itu salah. Dengan tinggal kelas, mengulang program, mengulang mata kuliah, atau apapun namanya, tidak berarti bahwa seseorang itu bodoh, tidak mau belajar, dan semacamnya. Mereka hanya gagal di kesempatan pertama dan sedang mencoba kesempatan lain. Apa salahnya itu?
Yang sekarang saya rasakan adalah rasa malu karena pernah sepakat dengan anggapan bahwa tinggal kelas itu aib. Saya kini seorang veteran, seorang yang tinggal kelas, dan saya bangga dengan status itu karena saya diberikan kesempatan untuk mempelajari suatu hal lebih lama, bertemu dengan teman-teman baru, dan lebih memaknai kesempatan kedua yang saya nikmati sekarang.
Karena tidak selalu ada kesempatan kedua..., atau begitulah kata orang.
Wednesday, July 16, 2008
What can an old friend mean to me
Now she works in a government office, The Vice President's Office to be exact, while I still attend med school. She rent a room near my campus so now we meet occasionally. And I've been having this feeling ever since. It's just..., I don't know, I just don't know.
I mean, all I felt when around her is completed. She has the quality I've been lacking. Positive, adorable attitude, more adorable physical performance; what else I can expect from a woman?
Sometime I imagine holding her hand legally as a loving husband..., what a dream.
Friday, June 06, 2008
Tight Money Policy
Syukurnya orangtua saya bisa termasuk berkecukupan sehingga selama ini bisa mengirimi uang saku bulanan lebih dari yang saya butuhkan untuk hidup di perantauan sehingga saya bisa agak leluasa menaikkan rencana anggaran bulanan.
Begitulah, jika saya saja yang tidak miskin dihadapkan pada pilihan-pilihan yang makin sulit, maka tidak terbayang kepusingan +80% rakyat Indonesia yang masih hidup jauh di bawah standar kelayakan menghadapi inflasi yang pada hakikatnya adalah pemiskinan yang sistematis.
Kadang saya bermimpi pemerintah Indonesia punya nyali sebesar gunung dan menasionalisasi Exxon, Freeport dan perusahaan pencuri lainnya. Atau memancung semua koruptor dari kantor desa sampai gedung DPR. Atau menyediakan tanah untuk taman kota atau fasilitas umum lain alih-alih membangun mal di kota-kota besar yang semakin menjijikkan. Apa daya, mimpi saya sebatas mimpi. Saya harus bangun dan mengejar bis kuning jam 6.30....
Monday, May 26, 2008
Menjadi Mahasiswa FK
Saya bilang, jadi mahasiswa kedokteran itu justru menunda kedewasaan. Kata teman saya juga begitu. Kami datang kuliah jam 7, pulang jam 3 sore (kecuali kalau kena giliran jaga di RS). Persis siswa SMU. Setelah 4 tahun di kampus, kami masih kuliah sementara mahasiswa fakultas lain sudah lulus, bahkan sudah kerja dan menghidupi diri sendiri dari gaji pertamanya. Rata-rata perlu 1,5 sampai 2,5 tahun lagi untuk menjadi dokter yang "jadi". Di saat itu, teman seangkatan saya di SMU mungkin sudah punya 2 anak.
Memang tidak banyak, tapi di setiap angkatan koas pasti ada yang setuju dengan pendapat saya. Intinya, memilih jadi mahasiswa kedokteran itu keputusan yang harus dipikirkan sangat matang. Sekali masuk, baru bisa keluar "baik-baik"setelah 5-6 tahun.
Oh, lamanya jadi anak FK....
Monday, April 28, 2008
Terbangun jam setengah dua malam dalam keadaan belum mandi dan dunia yang terlelap. Sungguh lama sensasi ini tidak datang kepadaku yang sibuk dalam terangnya pagi. Sungguh lama sudah aku tak mendengar apa yang dikatakan embun pagi. Sungguh lama sudah Sampidra tak bercakap dengan dini.
Dan lagi-lagi, para wanita datang. Tidak, bukan ke dalam kamar bau ini, melainkan ke pikiran kosong yang masih setengah terbangun. Ke dalam jiwa yang secara refleks menyalakan komputer dan mendengarkan siaran radio tengah malam tanpa penyiar.
Wanita pertama datang melalui sms yang dikirimnya padaku sejak dua malam berturut-turut. Kuyakin itu bukan sms apa-apa, sekedar memberikan semangat dalam perjalanan panjang yang akan segera berakhir. Tapi karena tidak ada wanita lain yang melakukan hal itu, entah kenapa perlakukan itu membuatku merasa istimewa. Entahlah, kurasa ini hanya maifestasi lain dari kesendirian kronik yang kuidap.
Oh, tidak, radio sialan itu memutar lagu Reza feat. Masaki Ueda – Biar Menjadi Kenangan. Pilihan lagu yang sangat tepat untuk menyindirku. Menyindir aku yang membatu dalam kenangan akan wanita kedua yang juga datang malam ini. Yang mungkin akan kutemui dalam 2-3 hari ke depan. Yang telah membuatku menertawai diri setelah 4 tahun berkubang sendirian dalam harapan kosong. Yang kini terpampang jelas di hadapanku seperti semeja makanan yang dihidangkan pada orang yang tidak lagi lapar.
Dan yang ketiga datang menumpang rasa lapar. Mengingatkanku pada dua makan malam bersamanya. Makan malam, lalu jalan-jalan bersama, lalu mengantarnya belanja, lalu pulang bersama; ahh, betapa mungkin semua mengipasi percikan hangat yang kini jadi bara. Tak tahu apa yang akan terjadi seandainya bara itu terus dikipasi jadi api...
Saturday, March 08, 2008
Lama
Lama tiada berpikir. Jalan tol antara otakku dan lidahku jadi berlubang-lubang. Tambah malas bicara. Tambah malas komentar. Persis jalanan Jakarta yang bopeng dimakan hujan.
Lama tiada bercinta. Terlalu banyak wanita tapi tiada yang bisa bikin aku angkat dagu dari aspal becek yang terus kotori ujung celana.
Sudah lama aku tiada.
Berhenti mengada.
Mengapa harus mengada bila aku bisa tetap hidup dalam kematian?
Sunday, October 28, 2007
Cerita 100 kata (2)
“Masak sih?”
“Bener, nggak percaya?”
“Percaya kok, Mas....”
Dan dia pun tersenyum. Jenis senyum yang meluluhkan semua kegilaan dunia dalam sebentuk bibir.
“Besok kesini lagi nggak?”
“Besok, dan besoknya lagi, sampai,…”
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu mau aku bawa pergi dari sini.”
Dan dia pun tertawa, menertawakan kenaifanku.
* * *
“Profesor? ” Sejak kapan kekasihku memanggilku “profesor”?
“Profesor Gantar?” Ternyata Asta, tangan kananku. Barusan aku teringat dia lagi.
“Maaf Profesor, ada alasan khusus mengapa selalu makan siang di warteg ini yang jauh begini dari rumah sakit Anda, Profesor?”
Saturday, September 22, 2007
Tired.
I asked me what's been achieved, there's only one big shiny "?" hanging above my nose.
Just like Radiohead's Creep," ... what the hell am I doing here; I don't belong here...."
It feels like slowly digested inside some beast's bowel; a mind-numbing pain
I swing from one day to another,
like taking the steep, uphill route of a mountain
Only think 2 steps ahead, never more
Just to maintain sanity in the thickened air
Will there be a heavenly summit?
Friday, September 14, 2007
Jadi dokter di Tangerang
Tapi, mau tak mau stase disana harus dilalui. Maka berangkatlah saya pada Minggu malam sebab Senin pagi stase dimulai.
Saya tiba di RSU Tangerang sekitar jam 9 malam & langsung menuju rumah koas FKUI. Rumahnya cukup besar. Ada 1 ruang tamu, 1 ruang TV, 8 kamar tidur (untuk koas Anak 3 kamar, koas Interna 2 kamar, koas Bedah 2 kamar, koas Obgyn tidak dapat kamar karena belum stase Tangerang), 1 kamar makan, 1 dapur, 5 kamar mandi & 1 tempat mencuci. Di sebelah kanan rumah ko-as FKUI ada rumah koas FKGUI dengan 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 ruang bersama, & 1 dapur (detail rumah koas FKGUI saya lihat waktu bertandang ke rumah tetangga kami itu :D)
Hari Senin pagi stase dimulai. Kami, koas Anak ber-12 menuju bangsal perawatan Anak, Anyelir & Kemuning (6 ke Anyelir, 6 ke Kemuning). Saya ke Kemuning (bangsal kelas III). Di sana saya bertugas mengawasi 5 pasien. Tugasnya mencakup mengikuti perkembangan pasien tiap hari, termasuk pengobatan & edukasi ke orangtuanya (istilah kampungnya "follow up"). Jadi, tiap jam setengah 7 pagi selama seminggu saya follow up ke bangsal Kemuning, lalu mencatat hasil follow-up di status pasien, dan menunggu dokter calon spesialis (residen) Anak datang dan membenarkan follow-up kami, koas-koas lucu (baca: lugu nan cupu). Bagi saya, bagian inilah yang paling menyenangkan karena koas boleh menentukan segala tindakan sesuai yang dia tuliskan di status. Jika koas lucu itu agak pintar, residen akan menyetujui semua langkah penatalaksanaan yang dia tuliskan. Jika tidak, alamat status itu berubah jadi mirip buku anak kecil yang baru belajar menulis; penuh coretan! Kenapa saya bilang menyenangkan? Karena di sinilah kesempatan untuk benar-benar menjadi dokter terkabulkan. Kalaupun ada kesalahan memberi obat misalnya, residen Anak yang pintar-pintar itu akan mengoreksi sebelum kesalahan itu dilakukan pada pasien. So, we can learn from every mistakes we did everyday without any worries.
Menjelang siang, ke-12 koas berkumpul bersama 1 spesialis Anak untuk berdiskusi. Spesialis Anak yang bertugas saat itu namanya dr. Khumaedi, Sp. A. Beliau baik sekali dan mau membagi ilmu-ilmu praktisnya dengan gratis, beda dengan Sp.A di RSCM yang selalu bilang, "Kamu baca lagi ya Dek!" Diskusinya berkaitan dengan kasus yang kami follow-up tiap hari. Diskusi ini berakhir pada jam makan siang jadi kami langsung ke rumah koas begitu selesai.
Seharusnya setelah makan siang & salat, kami kembali lagi ke bangsal. Namun karena sebagian besar kami-kami ini (sudah bodoh) malas (pula), maka yang kembali ke bangsal biasanya hanya yang bertugas jaga mulai sore itu sampai keesokan subuhnya. Yang tidak jaga: HURA-HURA!!! Mau makan lagi kek, mau tidur kek, mau jalan-jalan ke mal-mal Tangerang kek (seperti saya), terserah....
Tentunya yang jaga tidak bisa semerdeka yang lain. Tugas selama jaga: menerima pasien baru (kalau ada) dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, bikin diagnosis kerja+perencanaan, lalu lapor ke residen lewat telepon tentang diagnosis kerja & rencana yang dibuat. Kalau tidak ada pasien, bercengkrama dengan perawat, terutama perawat cewek yang masih muda & manis. Kalau ada pasien yang perlu "perhatian khusus" seperti infusnya macetlah, infusnya habislah, infusnya lepaslah, infusnya terminumlah (eh, yang ini nggak...) dll, kami beri perhatian khusus. Kalau ada yang sekarat, kami lakukan prosedur buat pasien sekarat. Kalau ada yang mati, kami lakukan prosedur pasien sekarat sekedarnya agar keluarganya merasa ada usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa yang sebenarnya sudah tidak terselamatkan, lalu kami doakan & kami kuatkan hati keluarganya. Yah, begitulah. (Kebetulan waktu saya jaga ada 1 yang meninggal, dan itu yang saya lakukan.)
Dari Senin sampai Sabtu seperti itulah gambaran kehidupan koas Anak yang sedang stase di RSU. Tangerang. Sebagian kembali ke Jakarta Sabtu siang, kecuali yang jaga Sabtu malam & Minggu pagi. Saya pulang ke Jakarta dengan berat hati karena selesai sudahlah 1 minggu paling menyenangkan selama 4 tahun lebih saya jadi anak FKUI. Stase Tangerang menyenangkan karena:
1. Bisa mengaplikasikan ilmu (yang cuma seujung kuku) langsung ke pasien
2. Kasus-kasus yang ada merupakan gambaran nyata kasus yang akan sering ditemui nanti di lapangan.
3. Makanan terjamin (bisa makan 4-5 kali sehari, gratis pula! --> sangat cocok untuk anak kos seperti saya)
4. Ada tetangga anak FKG yang manis-manis.
5. Tiap sore bisa jalan-jalan kalau tidak jaga.
6. Presentasi kasus harian boleh dibuat tanpa tinjauan pustaka yang panjang & mengesalkan itu.
7. Taman RSU. Tangerang bagus & asri, tidak seperti RSCM yang gersang nan padat
8. Bisa bergaul lebih dekat dengan teman-teman koas Interna, Bedah & Obgyn yang sama-sama stase di Tangerang (bergaul lebih dekat = kesempatan bertandang ke kamar teman-teman & melihat mereka dalam piyama masing-masing tanpa ditampar!!! --> tidak berlaku untuk teman yang berjilbab kecuali mereka sedang alpa....)
Begitulah....