Wednesday, July 16, 2008
What can an old friend mean to me
Now she works in a government office, The Vice President's Office to be exact, while I still attend med school. She rent a room near my campus so now we meet occasionally. And I've been having this feeling ever since. It's just..., I don't know, I just don't know.
I mean, all I felt when around her is completed. She has the quality I've been lacking. Positive, adorable attitude, more adorable physical performance; what else I can expect from a woman?
Sometime I imagine holding her hand legally as a loving husband..., what a dream.
Friday, June 06, 2008
Tight Money Policy
Syukurnya orangtua saya bisa termasuk berkecukupan sehingga selama ini bisa mengirimi uang saku bulanan lebih dari yang saya butuhkan untuk hidup di perantauan sehingga saya bisa agak leluasa menaikkan rencana anggaran bulanan.
Begitulah, jika saya saja yang tidak miskin dihadapkan pada pilihan-pilihan yang makin sulit, maka tidak terbayang kepusingan +80% rakyat Indonesia yang masih hidup jauh di bawah standar kelayakan menghadapi inflasi yang pada hakikatnya adalah pemiskinan yang sistematis.
Kadang saya bermimpi pemerintah Indonesia punya nyali sebesar gunung dan menasionalisasi Exxon, Freeport dan perusahaan pencuri lainnya. Atau memancung semua koruptor dari kantor desa sampai gedung DPR. Atau menyediakan tanah untuk taman kota atau fasilitas umum lain alih-alih membangun mal di kota-kota besar yang semakin menjijikkan. Apa daya, mimpi saya sebatas mimpi. Saya harus bangun dan mengejar bis kuning jam 6.30....
Monday, May 26, 2008
Menjadi Mahasiswa FK
Saya bilang, jadi mahasiswa kedokteran itu justru menunda kedewasaan. Kata teman saya juga begitu. Kami datang kuliah jam 7, pulang jam 3 sore (kecuali kalau kena giliran jaga di RS). Persis siswa SMU. Setelah 4 tahun di kampus, kami masih kuliah sementara mahasiswa fakultas lain sudah lulus, bahkan sudah kerja dan menghidupi diri sendiri dari gaji pertamanya. Rata-rata perlu 1,5 sampai 2,5 tahun lagi untuk menjadi dokter yang "jadi". Di saat itu, teman seangkatan saya di SMU mungkin sudah punya 2 anak.
Memang tidak banyak, tapi di setiap angkatan koas pasti ada yang setuju dengan pendapat saya. Intinya, memilih jadi mahasiswa kedokteran itu keputusan yang harus dipikirkan sangat matang. Sekali masuk, baru bisa keluar "baik-baik"setelah 5-6 tahun.
Oh, lamanya jadi anak FK....
Monday, April 28, 2008
Terbangun jam setengah dua malam dalam keadaan belum mandi dan dunia yang terlelap. Sungguh lama sensasi ini tidak datang kepadaku yang sibuk dalam terangnya pagi. Sungguh lama sudah aku tak mendengar apa yang dikatakan embun pagi. Sungguh lama sudah Sampidra tak bercakap dengan dini.
Dan lagi-lagi, para wanita datang. Tidak, bukan ke dalam kamar bau ini, melainkan ke pikiran kosong yang masih setengah terbangun. Ke dalam jiwa yang secara refleks menyalakan komputer dan mendengarkan siaran radio tengah malam tanpa penyiar.
Wanita pertama datang melalui sms yang dikirimnya padaku sejak dua malam berturut-turut. Kuyakin itu bukan sms apa-apa, sekedar memberikan semangat dalam perjalanan panjang yang akan segera berakhir. Tapi karena tidak ada wanita lain yang melakukan hal itu, entah kenapa perlakukan itu membuatku merasa istimewa. Entahlah, kurasa ini hanya maifestasi lain dari kesendirian kronik yang kuidap.
Oh, tidak, radio sialan itu memutar lagu Reza feat. Masaki Ueda – Biar Menjadi Kenangan. Pilihan lagu yang sangat tepat untuk menyindirku. Menyindir aku yang membatu dalam kenangan akan wanita kedua yang juga datang malam ini. Yang mungkin akan kutemui dalam 2-3 hari ke depan. Yang telah membuatku menertawai diri setelah 4 tahun berkubang sendirian dalam harapan kosong. Yang kini terpampang jelas di hadapanku seperti semeja makanan yang dihidangkan pada orang yang tidak lagi lapar.
Dan yang ketiga datang menumpang rasa lapar. Mengingatkanku pada dua makan malam bersamanya. Makan malam, lalu jalan-jalan bersama, lalu mengantarnya belanja, lalu pulang bersama; ahh, betapa mungkin semua mengipasi percikan hangat yang kini jadi bara. Tak tahu apa yang akan terjadi seandainya bara itu terus dikipasi jadi api...
Saturday, March 08, 2008
Lama
Lama tiada berpikir. Jalan tol antara otakku dan lidahku jadi berlubang-lubang. Tambah malas bicara. Tambah malas komentar. Persis jalanan Jakarta yang bopeng dimakan hujan.
Lama tiada bercinta. Terlalu banyak wanita tapi tiada yang bisa bikin aku angkat dagu dari aspal becek yang terus kotori ujung celana.
Sudah lama aku tiada.
Berhenti mengada.
Mengapa harus mengada bila aku bisa tetap hidup dalam kematian?
Sunday, October 28, 2007
Cerita 100 kata (2)
“Masak sih?”
“Bener, nggak percaya?”
“Percaya kok, Mas....”
Dan dia pun tersenyum. Jenis senyum yang meluluhkan semua kegilaan dunia dalam sebentuk bibir.
“Besok kesini lagi nggak?”
“Besok, dan besoknya lagi, sampai,…”
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu mau aku bawa pergi dari sini.”
Dan dia pun tertawa, menertawakan kenaifanku.
* * *
“Profesor? ” Sejak kapan kekasihku memanggilku “profesor”?
“Profesor Gantar?” Ternyata Asta, tangan kananku. Barusan aku teringat dia lagi.
“Maaf Profesor, ada alasan khusus mengapa selalu makan siang di warteg ini yang jauh begini dari rumah sakit Anda, Profesor?”
Saturday, September 22, 2007
Tired.
I asked me what's been achieved, there's only one big shiny "?" hanging above my nose.
Just like Radiohead's Creep," ... what the hell am I doing here; I don't belong here...."
It feels like slowly digested inside some beast's bowel; a mind-numbing pain
I swing from one day to another,
like taking the steep, uphill route of a mountain
Only think 2 steps ahead, never more
Just to maintain sanity in the thickened air
Will there be a heavenly summit?
Friday, September 14, 2007
Jadi dokter di Tangerang
Tapi, mau tak mau stase disana harus dilalui. Maka berangkatlah saya pada Minggu malam sebab Senin pagi stase dimulai.
Saya tiba di RSU Tangerang sekitar jam 9 malam & langsung menuju rumah koas FKUI. Rumahnya cukup besar. Ada 1 ruang tamu, 1 ruang TV, 8 kamar tidur (untuk koas Anak 3 kamar, koas Interna 2 kamar, koas Bedah 2 kamar, koas Obgyn tidak dapat kamar karena belum stase Tangerang), 1 kamar makan, 1 dapur, 5 kamar mandi & 1 tempat mencuci. Di sebelah kanan rumah ko-as FKUI ada rumah koas FKGUI dengan 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 ruang bersama, & 1 dapur (detail rumah koas FKGUI saya lihat waktu bertandang ke rumah tetangga kami itu :D)
Hari Senin pagi stase dimulai. Kami, koas Anak ber-12 menuju bangsal perawatan Anak, Anyelir & Kemuning (6 ke Anyelir, 6 ke Kemuning). Saya ke Kemuning (bangsal kelas III). Di sana saya bertugas mengawasi 5 pasien. Tugasnya mencakup mengikuti perkembangan pasien tiap hari, termasuk pengobatan & edukasi ke orangtuanya (istilah kampungnya "follow up"). Jadi, tiap jam setengah 7 pagi selama seminggu saya follow up ke bangsal Kemuning, lalu mencatat hasil follow-up di status pasien, dan menunggu dokter calon spesialis (residen) Anak datang dan membenarkan follow-up kami, koas-koas lucu (baca: lugu nan cupu). Bagi saya, bagian inilah yang paling menyenangkan karena koas boleh menentukan segala tindakan sesuai yang dia tuliskan di status. Jika koas lucu itu agak pintar, residen akan menyetujui semua langkah penatalaksanaan yang dia tuliskan. Jika tidak, alamat status itu berubah jadi mirip buku anak kecil yang baru belajar menulis; penuh coretan! Kenapa saya bilang menyenangkan? Karena di sinilah kesempatan untuk benar-benar menjadi dokter terkabulkan. Kalaupun ada kesalahan memberi obat misalnya, residen Anak yang pintar-pintar itu akan mengoreksi sebelum kesalahan itu dilakukan pada pasien. So, we can learn from every mistakes we did everyday without any worries.
Menjelang siang, ke-12 koas berkumpul bersama 1 spesialis Anak untuk berdiskusi. Spesialis Anak yang bertugas saat itu namanya dr. Khumaedi, Sp. A. Beliau baik sekali dan mau membagi ilmu-ilmu praktisnya dengan gratis, beda dengan Sp.A di RSCM yang selalu bilang, "Kamu baca lagi ya Dek!" Diskusinya berkaitan dengan kasus yang kami follow-up tiap hari. Diskusi ini berakhir pada jam makan siang jadi kami langsung ke rumah koas begitu selesai.
Seharusnya setelah makan siang & salat, kami kembali lagi ke bangsal. Namun karena sebagian besar kami-kami ini (sudah bodoh) malas (pula), maka yang kembali ke bangsal biasanya hanya yang bertugas jaga mulai sore itu sampai keesokan subuhnya. Yang tidak jaga: HURA-HURA!!! Mau makan lagi kek, mau tidur kek, mau jalan-jalan ke mal-mal Tangerang kek (seperti saya), terserah....
Tentunya yang jaga tidak bisa semerdeka yang lain. Tugas selama jaga: menerima pasien baru (kalau ada) dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, bikin diagnosis kerja+perencanaan, lalu lapor ke residen lewat telepon tentang diagnosis kerja & rencana yang dibuat. Kalau tidak ada pasien, bercengkrama dengan perawat, terutama perawat cewek yang masih muda & manis. Kalau ada pasien yang perlu "perhatian khusus" seperti infusnya macetlah, infusnya habislah, infusnya lepaslah, infusnya terminumlah (eh, yang ini nggak...) dll, kami beri perhatian khusus. Kalau ada yang sekarat, kami lakukan prosedur buat pasien sekarat. Kalau ada yang mati, kami lakukan prosedur pasien sekarat sekedarnya agar keluarganya merasa ada usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa yang sebenarnya sudah tidak terselamatkan, lalu kami doakan & kami kuatkan hati keluarganya. Yah, begitulah. (Kebetulan waktu saya jaga ada 1 yang meninggal, dan itu yang saya lakukan.)
Dari Senin sampai Sabtu seperti itulah gambaran kehidupan koas Anak yang sedang stase di RSU. Tangerang. Sebagian kembali ke Jakarta Sabtu siang, kecuali yang jaga Sabtu malam & Minggu pagi. Saya pulang ke Jakarta dengan berat hati karena selesai sudahlah 1 minggu paling menyenangkan selama 4 tahun lebih saya jadi anak FKUI. Stase Tangerang menyenangkan karena:
1. Bisa mengaplikasikan ilmu (yang cuma seujung kuku) langsung ke pasien
2. Kasus-kasus yang ada merupakan gambaran nyata kasus yang akan sering ditemui nanti di lapangan.
3. Makanan terjamin (bisa makan 4-5 kali sehari, gratis pula! --> sangat cocok untuk anak kos seperti saya)
4. Ada tetangga anak FKG yang manis-manis.
5. Tiap sore bisa jalan-jalan kalau tidak jaga.
6. Presentasi kasus harian boleh dibuat tanpa tinjauan pustaka yang panjang & mengesalkan itu.
7. Taman RSU. Tangerang bagus & asri, tidak seperti RSCM yang gersang nan padat
8. Bisa bergaul lebih dekat dengan teman-teman koas Interna, Bedah & Obgyn yang sama-sama stase di Tangerang (bergaul lebih dekat = kesempatan bertandang ke kamar teman-teman & melihat mereka dalam piyama masing-masing tanpa ditampar!!! --> tidak berlaku untuk teman yang berjilbab kecuali mereka sedang alpa....)
Begitulah....
Tuesday, August 07, 2007
Dealing with my mom's notebook
And it's not just that. There are many drivers provided at acer's site but I only desperatedly need the graphic driver. After an hour of downloading the driver, it said something about server error bla....bla...bla which means I CAN'T use the driver. F**K!!! Without that driver, I can't see whatever Windows Media Player 10 showing in that notebook.
Luckily the I've got the audio driver before, so after I get this video driver (hopefully) there won't be any problems anymore. *deep sigh*
Tuesday, July 31, 2007
Kata yang lahir dari hati yang sedang bergolak biasanya lebih lekat dan lebih menyala. Tidak demikian dengan kata yang diperas dari mengkalnya ide. Kata-kata jenis ini lebih cenderung hambar, lemah dan bahkan dibenci oleh sang penulis sekalipun.
Tapi jangan salah, bahkan sang Chairil Anwar pun pernah melahirkan puisi "mengkal", yang dibencinya pula. Perasaannya ini disampaikan dalam salah satu
INI juga adalah kumpulan kata mengkal yang diperas dalam bilik temaram warnet di
Tidak untuk apa-apa, bukan untuk siapa-siapa, hanya demi mempertahankan kewarasan dari kebosanan yang beracun dan sakit kepala akibat tidur 15 jam sehari.
Tuesday, July 03, 2007
Sekarang minggu ketiga, tepatnya hari Rabu. Sudah setengah jalan di bagian terakhir. Tinggal dua setengah minggu lagi sebelum tingkat 4 selesai.
Rasanya aku sudah jauh berjalan. Berjalan saja tanpa membawa pulang apa-apa. Kawan-kawanku pulang degan kepala tegak dan dada terbusung. Mereka sarjana. Mereka bekerja. Mereka merdeka.
Aku?
Masih di sini saja. Terjebak dalam rutinitas bis kuning jam setengah tujuh dan angkutan kota jam tiga sore. Tak ada apa-apa di antaranya.
Aku lelah. Aku ingin pulang. Padamu.
Tapi maukah kau menerimaku? Dua tahun lagi, katamu. Dua tahun lagi? Sanggupkah aku? Rasanya dua minggu lagi aku sekarat. Nyawa di ujung tebing. Waras di pinggir tubir.
Aku lelah dihela ke sana ke sini. Aku ingin berbaring. Baring saja bersamamu dan bercakap-cakap. Kita tidak begitu sering bercakap-cakap bukan? Betapa aku ingin bercerita padamu. Menularimu dengan jutaan kata dalam kepalaku yang bersipongang tiap saat. Lebih gaduh daripada sarang lebah yang sibuk meski diriku yang kau lihat dari luar hanyalah pohon berayun dihujani angin.
Jakarta, 20 Juni 2007
Saturday, May 26, 2007
Catatan liburan 4 hari (part2)
Day 2: 18-5-2007
Hari ini Jumat, jadi nggak banyak waktu buat jalan2. Tapi berhubung saya bilang ke ibu kalo saya perlu baju kuliah lagi, maka ibu ngajak saya sama adek jalan2 ke dept. store khusus pakean dekat Lapangan Karebosi yang namanya Sejahtera. Bapak nggak ikut, tapi nitip juga minta dibelikan baju. Kata ibu, nggak apa-apa nggak ikut, yang penting duitnya ikut :D.
Di dept. store itu, saya milih 2 baju kuliah yang lumayan elegan tapi nyantai. Begitu mo pulang, ibu nanya, "Ada lagi?" Trus saya bilang, " Celana kuliah satu, kalo boleh." Ternyata boleh, jadi saya pun milih celana yang enak. Sayangnya harganya juga "enak", kalo dihitung2 bisa buat beli 3 baju lagi. Tapi yang namanya ibu sayang anak kali yah, ibu saya nggak komplain apa2. I love you Mom!
Sorenya saya janjian mo jalan2 sama teman2 sekelas saat SMU yang lumayan akrab. Ada satu orang yang gak mo datang kalo nggak djemput, namanya Isma. Ya sudah, tadinya saya niat nggak bawa mobil, jadinya terpaksa bawa mobil buat jemput dia di lokasi yang jaraknya 7 kali jarak rumah saya ke tempat janjian. Tapi saya memang mo cerita2 sama dia secara pribadi, jadi saya pikir nggak apalah, toh di jalan bisa cerita2 lebih lama sama dia.
Selain Isma, ada Tanti dan Zam2 yang datang. Kami berempat pun ngobrol di food court mal tempat janjian. Nggak lama ngobrol, tau2 nongol Alif, teman SD-SMU yang sudah kayak saudara kandung saya sama. Dia datang dengan Nia, adik kelas kami yang juga mantan pacarnya Alif. (nggak taulah, itu urusan Alif :D). Hebohlah kami semua, soalnya saya nggak nyangka bakal ketemu Alif di situ. (Kalau saya pulang ke Makasar, saya selalu hubungi Alif untuk jalan2, tapi waktu itu saya gagal terus hubungi dia, saya pikir dia lagi di luar kota atau semacamnya). Sampai malam kami berenam bercengkrama di food court itu. Kami janjian lagi untuk jalan2 ke pantai keesokan sorenya, tapi yang mau ikut cuma saya, Alif. Zam2 dan Tanti. Akhirnya kami semua pulang. Saya mengantar Zam2 dan Tanti, Alif mengantar Isma dan Nia, soalnya kami searah. Kebetulan Zam2 dan Tanti mau minjam novel saya, jadi saya bawa dulu mereka ke rumah saya, makan malam di situ, lalu saya antar pulang ke rumah Zam2 (Tanti tinggal bersama Zam2).
Monday, May 21, 2007
Catatan liburan 4 hari (17-20 Mei 2007)
Nggak tidur semalaman, soalnya pesawat take off jam 6.30, berarti harus tiba di bandara jam 4.30, berarti harus berangkat dari asrama jam 3.30 dinihari. Akhirnya begadang dengan main game.
Jam 4 tiba di bandara, bandaranya belum buka, soalnya kru airline juga baru berdatangan. Akhirnya baru cek in jam 4.30. Nunggu di gate C4 sampe jam 6.30. Duduk di seat 7E, seat tengah yang tak saya suka. Untungnya tidak kejadian lain yang lebih mengesalkan. Apalagi mas2 yang duduk di 17F bawa laptop lenovo dengan OS LINUX SuSe yang keren nan canggih. Di akhir penerbangan dia mutar triller film2 keren. Orang itu keren juga gayanya: bawa2 laptop = melek komputer, apalagi OSnya LINUX. Outfitnya juga lumayan: longsleeve ijo tua, celana panjang hitam, sepatu kets gak tau merk apa tapi oke. Pokoknya kesan anak muda ubersexual terpancar kuat dari dia (gak tau ubersexual apaan? Googling aja :D) .
Dijemput bapak n adekku tercinta. Tiba di rumah jam 11.30 setelah singgah di penjual anggrek (ini hobi bapak), singgah ditilang polisi (ini khilaf bapak yang salah belok) n singgah di RS Bersalin Muhammadiyah 3 (ini tempat kerja bapak). Nyampe rumah, ketemu ibuku tercinta, trus makan. Ini yang paling kusenangi saat pulang ke rumah: menikmati masakan khas jl. Kakatua no. 29, Makasar.
Wednesday, March 28, 2007
Cerita tentang gumpalan benang (1)
+ Bagi saya, hidup itu gumpalan bola benang raksasa sebesar bumi, dan setiap kita adalah serat yang menyusun selembar benang.
- Apakah semua manusia terhubung satu sama lain?
+ Tentu saja, setiap serat dalam gumpalan itu tentu terhubung satu sama lain. Namun tentu saja tak semua serat itu terhubung secara langsung dengan yang lain. Tetap saja, setiap serat dalam bola benang raksasa itu terhubung.
- Menurutmu, apakah saya sudah terhubung dengan jodoh saya?
+ Ajukan pertanyaan yang tepat dan jangan tanyakan yang sudah kau tahu
- Apakah sekarang saya sudah mengenal jodoh saya?
+ Ajukan pertanyaan yang tepat, atau kutendang kau dari sini!
- Oke, oke. Kamu itu siapa sih?
+ Saya adalah bola benang, saya adalah serat. Saya adalah semua yang kau tahu. Dan saya adalah kamu.