Tuesday, August 06, 2013

“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (Part 2. THE Interview)




Salah satu softskill yang saya rasakan berkembang sepanjang mengikuti seleksi beasiswa Fulbright adalah kemampuan untuk tidak menjadi gila akibat harap-harap cemas yang bertubi-tubi. Sejak April 2012 hingga Juli 2012, tidak ada satu kabar pun dari AMINEF mengenai berkas yang saya kirim. Saya sampai di suatu titik yang membuat saya pasrah dengan kelanjutan kabar lamaran Fulbright saya. Anehnya, seperti saat pedekate sama pacar pertama waktu SMP dan saat mendaftar masuk universitas, justru “titik kepasrahan” ini yang membuat kisah akhirnya terasa semakin manis. You feel nothing to lose; you finally expect the unexpected. 


Saya ingat pagi itu saya memulai pekerjaan dengan duduk menumpang di meja dosen senior, membuka email, dan YEAAAAAY…!!! Akhirnya datang juga email dari AMINEF yang menyatakan berkas saya lulus dan meminta konfirmasi jadwal wawancara. Saya senang bukan kepalang sampai-sampai saya teriak dan mengangkat tangan; untung tidak ada orang lain disitu. Padahal tahapan seleksi sebenarnya masih sangat panjang. Sampai saat ini pun, H-5 keberangkatan saya ke Amerika, proses seleksi masih tetap berjalan seperti yang disampaikan Pak Anies Baswedan ketika mengisi keynote speech saat Pre-departure Orientation beberapa bulan lalu. “Truthfully, one is not a Fulbrighter until one board that airplane to U.S.”


Kembali ke masalah wawancara. Wawancara Fulbright diadakan di kota-kota besar, termasuk di Makassar. Jadi saya tidak perlu keluar kota untuk menghadirinya. Instruksi pra-wawancara tidak ada yang terlalu spesifik; cukup hadir tepat waktu, pelajari Study Objective (lagi-lagi) dengan baik, dan tidak usah tegang. Yeah, easier said than done. O ya, saya hampir lupa menambahkan bahwa kami diminta menyiapkan biosketch untuk keperluan wawancara. Biosketch ini semacam resume singkat 3 paragraf tentang latar belakang pelamar, rencana bidang studi dan manfaat yang diharapkan setelah selesai studi.


Pada hari yang dimaksud, saya datang ke hotel yang ditempati wawancara dengan pakaian seperti mau ke resepsi. Uncomfortable clothing adds up the uncomfortable feeling. Tapi ya sudahlah. Melihat beberapa pelamar keluar wawancara tidak sambil menangis, saya mencoba menabahkan diri. “SO kamu yang buat, ilmunya kamu yang tahu. Jadi nggak usah khawatir,” kata saya kepada diri sendiri. Sambil menunggu, ada dua pelamar di samping saya. Satunya berasal dari kampus yang sama dengan saya, satu lagi dari kampus di Kendari. Dari kami bertiga, saya giliran terakhir. Rekan sekampus saya keluar dan menceritakan kondisi wawancaranya yang hampir dua kali lebih lama dibanding yang lain. You know what, it doesn’t help. Dan saya melanjutkan menunggu.

“Mr. Qushay Umar Malinta, please come in.”

Ada empat orang di ruangan. Yang duduk di ujung mbak Adeline. Dua orang profesor di tengah adalah alumni Fulbright. Satu bule di ujung lainnya adalah Fulbrighter AS yang sedang riset di Makassar.

Apa isi study objective Anda? Apa Anda lebih suka tinggal di lingkungan kampus atau di luar kampus? Apa manfaat pendidikan Anda bagi masyarakat Indonesia? Apa Anda tegang? O, Anda tidak tahu tentang ini? Kenapa harus di USA? Apa Anda tahu siapa peneliti terpenting di bidang tersebut?

Waktu terasa hilang. Massa kepala jadi berkali-kali lipat. Pensil jadi keriting di tangan saya. Semua teori relativitas Einstein terjadi selama 20 menit di ruangan itu.

Saya berusaha menangkap pertanyaan mereka, mengolah, mencerna, dan menjawabnya dengan kemampuan yang saya miliki. Saya mencatat pertanyaan, komentar & saran mereka di kertas yang disediakan. Tidak semua bisa saya jawab sesuai harapan, namun sebagian besar pertanyaan bisa saya komentari. Saya sangat yakin bahwa profesor berambut putih di depan saya ini, yang nada suaranya paling santai dan sorot matanya paling ringan, sudah meng-googling semua istilah yang ada di dalam SO saya. Saking tegangnya saya, ada satu pertanyaan dari beliau yang saya gagal saya jawab padahal itu adalah hal yang sangat mendasar di bidang saya. JANGAN IKUTI KESALAHAN SAYA. Keep calm, be yourself, and if you don’t know something you should, admit it.

Saya sudah membaca ratusan tips mengikuti wawancara. Saya sudah diwawancara dan mewawancara ratusan kali pula. Nyatanya saya tetap tegang dan mendapatkan konsekuensi pahit dari kondisi tersebut.

Saya pun keluar dengan tingkat kepasrahan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Somehow I felt confident, but I’m not sure what the interviewers felt about me. So, there you go

Yang namanya “tegang” hanyalah sebuah state of mind, hanya sebuah perasaan yang kendalinya ada 100% di pikiran kita sendiri. So, control your mind, control your fate.  

Hasil wawancara umumnya akan keluar sekitar akhir Agustus. Ada tiga kemungkinan hasil seleksi pada tahap ini, yaitu:
-          Not a candidate
-          Alternate candididate
-          Principal candidate

Bagi saya, hasil terburuk bukanlah not a candidate, melainkan alternate candidate; yang tengah-tengah dan samar-samar. Beberapa rekan saya yang alternate candidate mengakui bahwa status mereka sangat membuat orang harap-harap cemas. Sebab faktanya memang demikian; jika Anda adalah principal, kelulusan Anda di tahap berikutnya tergantung hasil tes TOEFL dan GRE/ GMAT Anda SAJA. Namun jika status Anda adalah alternate, Anda diberi harapan kelulusan yang bisa terwujud bisa juga tidak; tergantung hasil tes Anda DAN alokasi dana Pemerintah AS pada tahun anggaran tersebut.

Pada masa-masa menunggu hasil seleksi, nggak banyak yang bisa kita lakukan lagi selain berdoa dan meminta sebanyak-banyaknya orang agar mendoakan kita. Tiap kali ada yang bertanya tentang status kelulusan Fulbright kamu, jawablah dengan se-positif mungkin dan jangan lupa minta doanya. Ini yang saya lakukan sehingga Tuhan mengasihani saya dan menjawab doa orang-orang baik di sekitar saya.

Hasilnya? Email dari AMINEF tertanggal 23 Agustus 2012

“Dear Mr. Mallinta,
Congratulations! I am extremely pleased to inform you that you have been officially nominated as a principal candidate for a Fulbright scholarship to pursue study for a Master’s degree in the United States commencing with the Fall 2013 academic term.
blablabla blablabla blablabla blablabla blablabla blablabla … … …
Michael E. McCoy
Executive Director”

--- bersambung ke part 3 ---

Monday, August 05, 2013

“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (part 1)



“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?”

Ya, itulah kata-kata salah seorang teman kuliah ketika mengetahui saya lulus beasiswa Fulbright untuk sekolah Master (S2) di Amerika Serikat. Saya tahu betul dia tidak bermaksud merendahkan karena dia tahu betul mahasiswa macam apa saya ini ketika dulu kuliah S1.  

Teman saya itu berkata-kata demikian karena dia mengetahui dua fakta. Pertama: saya adalah mahasiswa-pemalas-tukang-bolos-dengan-IPK-pas-pasan-yang-lulus-karena-doa-dan-belas-kasihan-ribuan-orang. Fakta kedua: Fulbright adalah salah satu beasiswa paling bergengsi (dan paling memanjakan) yang ditawarkan buat orang Indonesia. Jadi dia bingung; kok bisa…?

Tulisan ini bukan untuk menjawab misteri Ilahi tersebut. Tulisan ini saya maksudkan sebagai kilas balik setelah menjalani salah satu proses seleksi terlama yang pernah saya alami: satu setengah tahun, man! Kayaknya cuma Nabi Syuaib AS yang pernah ikut seleksi lebih lama daripada seleksi Fulbright ini…(kalau saya nggak salah ingat kisah Nabi Syuaib AS, beliau itu dulu disuruh kerja sekitar 10 tahun sama seorang bapak baru dia boleh menikahi anak perempuan bapak itu). Syukur-syukur jika ada yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya ini.

Mari kita mulai flashback ini….
Part 1.
April 15th: The Date You Really Must Remember!
Satu setengah tahun yang lalu saya mulai mengikuti proses seleksi beasiswa Fulbright untuk tahun keberangkatan 2013. Proses itu dimulai pada awal 2012 ketika perwakilan AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation, www.aminef.or.id) mulai berkeliling Indonesia untuk menyebarkan informasi tentang beasiswa Fulbright yang mereka tangani. Mbak Adeline, staf AMINEF yang kebagian datang ke kampus saya, mengatakan syarat utama pendaftar Fulbright haruslah:
-          IPK S1 3,00                                                         
o   Saya: IPK S1 = 2,91; IPK profesi = 3,32. Kalau dirata-ratakan = 3,115. Nyarisss…
-          Bisa memimpin
o   Saya: mantan ketua OSIS SMP-SMU & ketua ekskul bantuan medis di kampus. Cukup meyakinkan…
-          Mengerti budaya Indonesia & budaya dunia
o   saya: nggak bisa bahasa daerah manapun, tapi saya ikut tim tari dan tim paduan suara waktu SMP dan SMA. Don’t ask.
-          Menunjukkan komitmen di bidang yang diminati
o   Saya: komitmen terbukti dengan menjadi mahasiswa 7 tahun.
-          Mau pulang ke Indonesia kalau program sudah selesai.
o   Saya: mau bangetlah, siapa yang nggak kangen sama coto Makassar, sop buntut, mie Aceh, dan segambreng makanan Indonesia yang enak-enak itu.
-          Bahasa Inggris nggak jelek-jelek amat (kalau ITP minimal 550; IBT minimal 79, IELTS minimal 6,0)
o   Saya: berkat nonton DVD sewaan SETIAP MALAM selama kuliah, nilai TOEFL ITP saya di atas 550. Lumayannnn….

Jadi dengan kondisi demikian, saya iseng-iseng mendaftar beasiswa tersebut. I mean, siapa sih yang nggak mau sekolah gratis, di Amerika pula?! Dengan semangat iseng-iseng (karena tidak yakin bisa lulus seleksi pertama) saya mulai melengkapi daftar dokumen yang harus dikirimkan ke AMINEF. Semuanya ada di formulir seleksi pendahuluan yang saya unduh dari situs AMINEF.

Ada belasan program beasiswa yang ditawarkan, mulai dari yang buat pertukaran pelajar SMU, pertukaran mahasiswa S1, beasiswa S2, beasiswa S3, beasiswa penelitian S3, banyak banget deh pokoknya. Saya fokus ke Master’s Degree program karena memang saya baru lulus S1. Itupun Master’s degree scholarship ada macam-macam; ada  yang untuk umum, ada buat yang berasal dari Papua, ada yang khusus bidang eksakta, ada yang kerjasama dengan DIKTI (DIKTI = Direktorat Pendidikan Tinggi à ini khusus buat dosen dan duitnya dari Pemerintah Indonesia, bukan dari Pemerintah AS), dan lain-lain. Untuk setiap program ada deadline mengirimkan berkas. Yak, betul deadline program saya adalah tanggal 15 April 2012.

Formulirnya menyuruh saya melengkapi dokumen seperti hasil TOEFL/ IELTS, rekomendasi dari atasan atau dosen waktu kuliah dulu, sama Study Objective (SO). SO ini yang paaaaaaaaaaaaaaaallllllllllllllllliiiiiiiiiiiiiinnnnnnnggggggggggg penting. Saking pentingnya, saya disuruh revisi SO sampai 6 kali sama staf AMINEF. Ini demi kebaikan pelamar juga sih, soalnya SO inilah yang akan dikirim ke universitas-universitas di Amerika dan menjadi salah satu alasan kuat penerimaan (atau penolakan) lamaran tersebut.

Ada banyak tips membuat SO Fulbright di internet. Tips yang paling penting: JANGAN COBA-COBA COPY-PASTE STUDY OBJECTIVE ORANG LAIN!!! Di negara kita, hal ini sangat sering diacuhkan oleh pihak yang berwenang. Tapi di Amerika, copy-paste = plagiarisme dan kultur mereka sangat membenci plagiarisme. “Trus, gimana dong??? Mana saya dulu tiap kali bikin makalah minimal seperempatnya ngopi punya temen…”

Tenang, kawan. Niat baik harus diikuti langkah baik pula. Saya juga dulu termasuk mahasiswa yang paling malas bikin makalah. Untungnya mbak Adeline ngasih semacam “insider tips” buat kita-kita yang mau nyusun Study Objective buat ngelamar Fulbright. Here they are:
-        -   MAKSIMUM 1 (SATU) HALAMAN. They can’t stress this enough. Kenapa? Ada puluhan ribu pelamar Fulbright dari seluruh dunia. Kalau SO kita lewat dari 1 halaman, jangankan dibaca, SO kita bakal langsung di-skip
-         -  Uraikan alasan spesifik mengenai hal berikut:
o   Kenapa kita memilih program studi/ bidang itu
o   Kenapa bidang itu cocok dengan latar belakang pendidikan kita
o   Kenapa harus di AS. Berikan ALASAN RASIONAL dan BUKAN MENJILAT.
§  Ini contoh alasan rasional: saya mau ke AS karena penemuan terbaru di bidang X yang saya minati diteliti oleh Profesor Y yang bertugas di universitas Z di Amerika Serikat.
§  Ini contoh menjilat: saya mau ke AS karena AS adalah negara paling maju, paling hebat, paling banyak penerima Nobel-nya, paling ini, paling itu, karena Presiden Obama pernah masuk SD di Menteng (apa coba?!)…
-          - Uraikan cita-cita/ rencana keterlibatan dalam masyarakat Indonesia sepulang studi nanti. Jelaskan apa sih manfaat menerima beasiswa Fulbright bagi diri pribadi kita, bagi institusi, bagi masyarakat di wilayah kerja/ tempat tinggal kita dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.
-          - Kembali ke tips nomor 1: MAKSIMUM SATU (1) HALAMAN.

 Jadi untuk membuat agar semua informasi tadi muat diketik dalam 1 halaman, bisa menarik minat orang Amerika yang SAMA SEKALI nggak mengenal kita maupun kualitas pribadi kita tanpa kita perlu datang bawa kue, oleh-oleh ataupun sesajen, memang butuh putar otak dan banting tulang.

O ya, the last thing about SO. Make sure your SO is written in the MOST PERFECT English! Minta bantuan keluarga, teman, atau siapapun itu yang kamu yakin bahasa Inggris-nya tidak ada cacatnya. Kalau perlu bayar penerjemah tersumpah untuk meng-Inggris-kan SO kamu.

Kedengarannya susah? Bung, ini belum apa-apa! Ini sama sekali belum apa-apa!

Ada kalimat sakti yang terus menerus saya putar ulang di kepala selama satu setengah tahun terakhir: “mau sekolah gratis di Amerika yang emang harus berjuang kayak gini. There’s no such thing as a free lunch!!!”

Dokumen lain yang tidak kalah penting adalah rekomendasi. Di tahap ini, kita cuma diminta memasukkan rekomendasi dari satu orang. Boleh atasan di tempat kerja saat melamar, boleh juga dosen kita saat kuliah dulu. Kalau kamu pernah minta rekomendasi sama “orang penting” kamu pasti pernah dengar kalimat ini, “Ya sudah, mana rekomendasinya saya tandatangan, isinya kamu tulis sendirilah!” Da*n! Disuruh mengarang-tapi-tidak-bebas lagi….

Maksud saya begini: kalau di rekomendasi itu kita terlalu memuji diri, pasti langsung ketahuan kalau yang menulis rekomendasi itu bukan orang yang menandatanganinya. Tapi kalau kita 1000% objektif menilai diri sendiri, kita bakal menulis berbagai kekurangan kita yang mungkin bakal bikin penyeleksi mikir 1000 kali buat nerima lamaran kita. Jadi kuncinya ada di pemilihan kata-kata.

Saya nggak bisa menjelaskan ini dengan baik karena kamu harus mengalami sendiri pergulatan batin dalam memilih kata-kata yang pas buat dituliskan di rekomendasi itu. Ingat, para penyeleksi di AS bakal membaca rekomendasi itu dan akan MENILAI KUALITAS KITA DARI SITU SAJA, setidaknya untuk permulaan.

Ingat juga bahwa kalau kamu lulus seleksi berkas awal, kamu akan diminta 2 rekomendasi tambahan lagi. Jadi, jangan menuliskan SEMUA keunggulan kamu yang kamu rasa betul-betul ada di dirimu dalam satu rekomendasi. “Tabunglah” sebagian keunggulan itu buat dimasukkan dalam 2 lembar rekomendasi berikutnya. Rekomendasi saya dari siapa saja? Yang pertama dari Dekan tempat saya bekerja, yang kedua dari Wakil Dekan II (Bagian Kepegawaian, Logistik &Keuangan) tempat saya bekerja, dan yang ketiga dari profesor yang dulunya adalah Wakil Dekan Urusan Kerjasama dan Pengabdian Masyarakat di tempat saya kuliah.

Sebagai dokumen tambahan, boleh-boleh saja kamu masukkan fotokopi semua piagam/ sertifikat/ dokumen apapun yang menjadi BUKTI KEGIATAN EKSKUL SELAMA KULIAH (piagam dari jaman kamu TK nggak perlu dimasukkan, bisa-bisa nanti ada ratusan lembar). Kalau mau masukkan piagam aslinya juga boleh sih, tapi jangan harap piagam itu dikembalikan sama AMINEF.

Kalau formulir sudah terisi lengkap, SO sudah rapi-jali, rekomendasi sudah “sempurna ketidaksempurnaannya”, sertifikat TOEFL sudah di tangan, dan piagam sudah dikopi; berkasmu JANGAN CEPAT-CEPAT DIKIRIM! Buat semua dokumen kamu dalam 2 rangkap: 1 rangkap dikirim, 1 jadi arsip pribadimu. Kalau perlu buat juga arsip digitalnya (simpan semua file/ hasil scan dokumen).

JANGAN MENGIKUTI KESALAHAN SAYA. Ada dua kesalahan besar saya:
1.       1. Saya nggak kepikiran buat nyimpan arsip berkas pertama ini. Belakangan saya menyesal karena lupa apa yang sudah saya tulis di SO & di rekomendasi, piagam apa yang sudah saya kirim, de el el, de es be. Jadi, BUAT ARSIP!
2.       2. Saya melewati deadline. Karena kebiasaan menunda-nunda yang kronik dari jaman kuliah, saya baru mengisi formulir, menyusun SO, mengkopi PADA MALAM TANGGAL 15 APRIL 2012, yang ternyata adalah hari Minggu!!! Hari Minggu = nggak ada jasa pengiriman yang buka. Goblok kan? Jadi, KERJAKAN DARI AWAL!

Hanya Allah Yang Maha Kuasa yang meluluhkan hati para staf AMINEF agar mau menerima berkas saya yang baru dikirim tanggal 16 April, padahal nyata-nyata tertulis di situs mereka, “Late or incomplete application will not be considered!

Sekian dulu cerita saya untuk part 1 ini. Kalau saya nggak malas ngetik, saya bakal buat part-part selanjutnya yang sudah saya lalui dalam 1,5 tahun terakhir, yaitu:
-          - Wawancara Fulbright
-          - Seleksi berkas tahap II
-          - Tes TOEFL-IBT, GRE & GMAT.
-          - Memilih universitas di Amerika
-          - Menunggu jawaban dari Amerika
-          - Pre-departure Orientation
-          - Menunggu keberangkatan
See you when I see you :P

Sunday, October 14, 2012

Buy, buy, buy!!!

Today there's a one-day discount on the latest gadget from Samsung: Galaxy Note II. The retail handphone shop that is having this promotion cut the price tag for about US$ 100 from it's regular price (around US$ 800). When I saw the ad on internet this morning, I found myself seduced by all the positive reviews and (of course) the discount. I spent half a day researching on finding out how cool the gadget is, and almost went straight to the shop before stock runs out as I know the people of this country won't let this kind of opportunity slips away.

But I didn't go.

The saner part of me finally kicked in. Why would I need a new handphone? I already have 3 handphones: 2 Blackberries & a very simple yet robust & effective Nokia which is cheaper than my pants. As of now, I only use 1 of those gadgets. Some people think they need 1 handphone for each hand they have, or even for each finger attached to their bodies. Not me, though.

I mean, no matter how hard we resist, consumerism is consuming us Indonesians more and more, and we the proud residents of Makassar are not to be excluded. We gauge ourselves with what we have; luxury house, shiny cars, cool gadgets, latest clothes; no longer by who we truly are: homo sapiens, The Thinking Beast.

For you who are not Indonesian resident, come see the modernization ripped our logic apart: people struggle in the streets as traffic jam gets worse just to find a comfortable place to eat and talk. Why is this eating and talking not comfort in our own place?

Maybe this rambling is just a rambling and benefit nobody in neither way. But maybe it triggers something in your head as it triggered mine and save me from spending 3 months salary for something I absolutely don't need. Money needed more and more everyday, but paradoxically, it's real value actually plummets constantly thanks to inflation.

I don't know; maybe I can say this because I don't earn much now. Maybe when someday I make stupidly large amount of cash, I will lose this insight and buy whatever stuff my gut tells me. If that's the case, I'll ask God the Richest of All: thank you, Sir, you can keep the all bling, but please let me keep my thrift. 


Makassar, 13 Oktober 2012

Senja di Stasiun

Bersahutan azan.
KRL masuk pelan.

Antara Tuhan
atau tujuan.

Berdesakan,
berdesahan.

Syukurku ini pilihan.
Bukan kenyataan harian.

Sungguh kasihan.
Mereka rutin dibeginikan.
-----
Depok, 26 September 2012

Of Chennai, India

When I was ordered to go to Chennai, India, I had no clue that I will have to haggle with a senile, got baked while sleeping, and use neighbor’s cloth line without permission. I won’t get you too far to those now because I haven’t told you why I should go to India in the first place.

One of my many bosses told me that I have to go India to train in a fertility clinic. Fertility training in India? How come the second most overpopulated nation in the universe could be a major player in fertility training?

Infertility is about 10-15% of all couples anywhere in the world. Now run those numbers with India’s sheer population, and you have more than a handful of cases. The large number means you will have ample experience in whatever training you conduct. That's how you have the opportunity not easily found elsewhere.

So, on a Saturday at dawn, three ladies and I boarded the plane from our hometown to a place we only knew in map; Chennai, a.k.a. Madras, India. It took us almost 7 hours of air travel, 8 hours of waiting at airports, and 3 times of transits to get to the city. Having arrived at 2 a.m. in Chennai, we found out that we were poorly informed about accommodation. The hospital apartment that was supposed to be our place in Chennai couldn’t be found. Luckily, with the help of a fellow Indonesian we contacted earlier, we managed to stay in an affordable inn, R.J. Residence in North Boag Road near Singapore Consulate (according to the inn’s leaflet). We took a single standard room (2000 rupees) for me and a double standard room (Rs. 2200) for the three ladies. All costs added with 19% “luxury” charge. That makes about Rs. 5000 (almost USD 100) which is quite inexpensive.
I woke up in late the morning and curious about my companion. They were placed in room 306 but no one answered my knocks. I asked the receptionist and he told me that my friends were in 204. I checked 204 after the bellboy opened it with a master key but the room was already emptied. There are no bags and bed sheets were untidy. I got out the inn and horrifyingly, a very large crowd of crows rocketed, flocked and croaked everywhere. No one was in the street and this was 8 a.m. already. I checked my cellphone and there was no balance left. My SIM card is an Indonesian one, but when I wanted to buy a local one, nobody sold one. All those adversaries made me realize the fact: I was in the movie “Unknown” where a foreigner wake up and inexplicably lost his travelling mates. What do I do now? How can I communicate with someone familiar without any cellphone? What if my friends decided to left me? Those questions scattered in my head they made those chaotic crows looked like the cute Tweety.

I tried to digest the fact while wandering and observing the neighborhood. Apparently God was only testing me because a burst of calamity suddenly hit me. I somehow felt that my colleagues are fine and all of these were just misunderstanding. The locals I met later explained everything: it was Sunday so no one wake up early; the normal working hour started at 10 a.m. so nobody sells anything yet; my friends were actually in room 309 instead of 204 or 306. I eventually met them; they were safe and sound. When I told them how wild my imagination had taken me, that room was shaken with laughter.

Once we arrived at the actual apartment which we are going to call home for the next two weeks, we found out that it was far from ready. Wires were dangling all over the places; nothing can be found in the kitchen; air conditioner still inside the box; you got the picture. One handy man from the hospital who we’ll befriend (read: commandeer) in so many days later told us that the apartment will be ready at night. He suggested us to spend a little time in the nearby mall while he got things arranged. It turned out that it took three more days until we could live comfortable enough in the apartment.

The four of us Indonesians plus one native Indian from New Delhi occupied the three bedroom apartment. Since our apartment was barely furnished, we needed to go to department store almost every day. I am so glad that my travel mates are all comedians. Otherwise we’d all be driven insane by the over-usage of curry, the scorching heat of summer peak, and the general madness of Indian motorists.

The main problem was the very hot environment of Chennai combined with electrical cut. The blackout unfortunately was more frequent at nights when air cooling was needed the most. The locals sleep on their balcony; I saw this one morning while observing our neighborhood for good photographing angle from the rooftop. While the heat at daytimes wasn’t too bad as we remained inside the air-conditioned-hospital, it was excruciating at nights when hot air from the day trapped inside the ceiling and couldn’t be cooled because of the electrical cut. On the second night which was the worst, I slept on the floor at the kitchen doorstep with the door remained open all along the night. That was the only place I didn’t feel like being baked alive.

The heat has its own benefit. We washed our clothes quite regularly so the heat ensured that we have something to wear on the next day. This was the time when a dispute over cloth lines happened with a local who live downstairs. Our balcony might be for sharing with the whole tenants in the building, but apparently that was not the case with cloth line. So when this neighbor found out that we had been using her cloth lines and clips without permission, we were met with ramble in Tamil language which none of us understand (the Indian lady in our apartment speaks Hindi instead of Tamil) and crossed, fiery eyes which every living beings understand. We never found ropes for sell to make our own cloth lines, so we still use hers :D

The other concern was that South Indian food are not palatable to us. They’re either too bland, like idly, or too spicy, like curry. Even the North Indian lady had to resort to cook her own meal. We had in our bags some Indonesian foods like instant noodles, chili sauce, etc., but eventually we would have to cook anyway. We didn’t have any refrigerator so groceries needed to be bought in small amount suffice for one or two days only, otherwise they will get rotten and wasted. Personally I would buy a refrigerator but the other thought it wasn’t necessary. That’s another reason for keep coming to the mall. We suspected that the mall guard would remember our faces many years from now since we got there so regularly.

Nevertheless, on the third day we decided that we needed a break with the mall visits. Our days were usually ended with journey back from the mall to the apartment by the Indian motorized tricycle (“auto”). We temporarily ceased the visits because one of us got too stressed out by auto drivers whom all aspiring to become the Lewis Hamilton of India. If you’ve seen the “bajaj” drivers of Jakarta, you’d know what I’m talking about. They sway their way like a snake and they trust their brakes too much; your nose would literally touch the other vehicle at lightning speed before those mad drivers brake! The only ones who drove less violently were the elderlies. Thanks to the financially-aware Indian lady who shared the apartment and transportation with us, on one evening we all managed to fit ourselves inside an auto driven by a senile male after heavily haggling him. For your information, an auto is designed for two passengers sitting comfortably; three would show cheapness and five would be a total chaos. By the end of that five minutes journey, we couldn’t decide which one of our behavior is more disgusting, haggling with a senile or overloading his auto that way….

Those hilarious stories may last in our memories longer than the training itself. Our training usually started at 10 a.m. with a couple of lectures that finished before lunch and continued with laboratory work until the end of the day. I found the lab session was slightly competitive due to unmatched amount of lab equipment and participant. But at the fourth day, I finally seized control of a microscope before anybody else did. Thanks to the two lab staffs whom have been assisting us always, I was finally able to dissolve my frustration at finding and manipulating sheep egg cells in petri dishes.

At one point, I realized why our training costs USD 2500 for each person. We were using actual laboratory equipment used every day in helping couples with fertility problems; trained by very competent people in the field; and the fertility topic itself is using state-of-the-art technologies. One of my friends who previously had a similar training in Malaysia told me that this Indian center uses more expensive protocols to maintain their high pregnancy rate. While working in lab, the staffs would be more than willing to help whenever I failed to have desired results. We could ask for everything to hone our laboratory skill.

Of the fourteen participants, only four were foreigners; us Indonesians. The rest were native Indians from all over the country. Compared to us, the natives are seemed to be very serious about this training. That’s not shocking; for them this is a personal investment. But for us Indonesians, since every cost had been covered by our university, this institutional investment didn’t prevent us from laughing at every mishap we faced, whether it was crystalized egg cells due to lack of preserving media, or a silly dispute with fellow Indonesians over limited electricity for powering air conditioners in different rooms. We also have a feeling that the clinic’s staffs liked us more. Actually, one staff mentioned that Indonesian people are radiant. Well, maybe we were overconfident about this, but the other staff befriended us in a way that she let herself to pinch one of my friend’s cheeks out of joy.

Now that we are entering the second half of the training, I start to feel that our time in this Land of Spice is way too short. Yet within only a week of time, we have been having experiences worthy of telling to our families and descendants in many years to come; not only of the educational part but mainly because of the life-teaching moments we’ve had. The path of our lives have been crossing with some inspiring souls; helpful and seasoned laboratory staffs, grateful maid who wash all of our clothes for only a quarter of dollar per day; hospital driver who were preparing for railway factory labor entrance test while escorting us; and so many more in this humble country. It made us realize that our debt is not to the university only, but also to all couples in our country in need of help at having child, at having hope for the better world.


Chennai, 11 Juni 2012

Kutukan Chairil


Waktu awal masuk SMA, saya iri sama teman-teman SMP yang ramai-ramai lanjut ke SMA favorit di kota sementara saya masuk SMA di dusun, di antara dua jurang dan dua sungai.
Waktu awal masuk kuliah, saya cemburu sama teman-teman SMA yang seru-seruan berbagi pengalaman jadi MABA di universitas yang sama & di kota yang sama sementara saya cuma sendiri kampus saya, di kota tempat saya merantau.
Pas lulus kuliah, saya ngiler melihat teman-teman kuliah mulai bekerja atau sekolah lagi di almamater kami, di kota megapolitan tempat semuanya ada, yang baik-baik apalagi yang buruk-buruk. Garis tangan saya malah memulangkan kembali ke kampung halaman di saat teman-teman lama sudah pindah satu-persatu dari tempat ini. Sepi lagi, sepi lagi.

Entah karena kebetulan atau memang "hasil intipan masa depan", puisi berjudul Aku (di beberapa buku judulnya Semangat) karangan Chairil Anwar yang dari kecil saya hapal memang menceritakan si Chairil yang mengambil jalan "sepi". Dia penyair yang satu-satunya bermodel "begitu" pada zamannya. Tidak ada yang menyerupai dia atau mengikuti jalan yang dia tempuh dalam dunia kepenyairan. Intinya, Chairil Anwar adalah orang yang jalan hidupnya selalu sepi, tidak ikut mainstream.

Saya hapal puisi itu pada usia kira-kira 5 tahun. Pada saat itu saya belum tahu jalan hidup saya akan sepi juga. Mungkin saat itu saya bisa menghapalnya karena jalan hidup saya ternyata selaras dengan puisi itu. Mungkin juga sih cuma kebetulan. Bagaimanapun, tiap kali saya melihat ke belakang, mau tak mau puisi Aku itu yang menjadi realitas dalam kehidupan saya.

Makassar, 22 Oktober 2011

Saturday, October 15, 2011

Dead-night words

It's been a long time, a very long time, since the last time I had this urge to write something about nothing.

Yes, this is a familiar feeling. I remember those good times when words just easily came out of mind with appreciable depth, meaning and impact on others' lives. Now those words just sunk in daily routines, exactly like hands of a clock that are bound forever in the same dot can never touch anything beyond the 12 numbers.

Where are those times go? Where is the muse that drove me enlightened? Am I actually become a bored and boring adult now? I'm longing for those salad days; fresh and easily rotten, short-minded and adventurous.

Nowadays, I go for work for 10-12 hours. Get home and too tired for anything but facebook and sleep. Weekends without sparks and excitement.

I once dreamed to become a pilot; to be completely free and defy even gravity; to sip the drops of cloud, to see beyond the horizon. That dream, even in it's most vaguest form, light something in my bones.

But dream is the other side of the coin of reality, right? The fact that I'm now a full member of society, an adult with a permanent job, is the reality. The one who flies beyond sky is in the parallel universe.

Its 2 a.m. now. I need to start my aircraft and take-off from this world.

Thursday, February 03, 2011

Internet Saya, (Bukan) Hidup Saya

Saya seumuran dengan internet. Kami berdua sama-sama lahir tahun 1985. Meskipun sama tuanya (atau sama mudanya), kami baru berkenalan pada usia kira-kira 13 tahun. Sampai sekarang, kami masih terus berhubungan akrab. Bahkan, tidak pernah sedekat ini.

Ya, saya sangat dekat dengan internet. Di ranjang saya yang untuk dua orang, saya tidur di sisi kiri, dan internet tidur di sisi kanan. Sebelum tidur, di tangan saya ada internet. Baru buka mata, saya sudah melihat internet. Hampir sepanjang hari, saya terus berhubungan dengan internet. Tidak peduli melalui apa saya mengalami kehidupan internet; mau itu ponsel, laptop, komputer rumah, warnet; apapun itu, eksistensi saya bersama internet hanya dipisahkan oleh sesuatu yang sangat halus dan kasat mata.

Telah separuh hidup saya berlalu bersama internet. Di fase pra-internet, begitu saya menyebut 13 tahun pertama kehidupan saya, lebih banyak jenis indera saya yang tercetus oleh kondisi sekeliling. Begitu internet hadir, penglihatan dan perabaan saya jauh lebih meningkat aktivitasnya daripada indera-indera lain. Gaya hidup saya menjadi lebih visual, lebih tekstual, lebih berfokus pada kata. Di dunia saya, pesan audio dan video di internet masih berupa barang mewah, bahkan hingga detik ini. Tentu saja internet tidak sekedar huruf, gambar dan gerakan tetikus; kini lalu lintas audio dan video bahkan lebih ramai daripada Jakarta Pusat di hari Senin pagi. Tapi sekali lagi, mari kita kenyataannya: layanan-layanan jejaring sosial paling aktif di muka bumi seperti Twitter, Facebook, MySpace, dan segala rupa, masih mengutamakan penyampaian pesan melalui teks.

Lantas apa pentingnya ini? Memangnya kenapa kalau bentuk komunikasi yang paling jamak antara manusia-manusia internet sejagat raya, seperti saya, menjadi sangat tekstual? Yang penting ’kan pesannya sampai, ya tidak?

Ehm, tidak….

Lama kelamaan, setelah belasan tahun hidup bersama internet, yang lebih memanjakan mata dan jari saya ketimbang indera lain, saya sadar bahwa internet sebagai gaya hidup saya tidak lagi memadai dalam menjalankan fungsi komunikasi yang saya butuhkan. Contohnya begini. Dengan internet, saya sangat senang bisa membeli headphone idaman saya tanpa harus keluar rumah. Saya bisa membaca penilaian orang atas suatu merek dan jenis yang spesifik; saya bisa membandingkan harga di beberapa toko internet; saya bisa membayar hanya dengan mengetikkan beberapa angka yang tertera di kartu kredit saya; semua tanpa melangkahkan kaki. Dengan internet dalam genggaman saya, semua itu proses di atas bisa selesai lebih cepat daripada waktu mandi pagi saya.

Masalahnya, apa yang terjadi dengan kemampuan komunikasi nonverbal saya jika begini terus? Masihkah saya rela meluangkan waktu pergi ke toko, berbasa-basi dengan pemilik toko sambil menawar barangnya? Akankah saya bisa membaca raut mukanya saat dia memberi saya harga? Dapatkah saya merasakan sentuhan personal dari segelas air minum kemasan yang disuguhkan saat dia melihat saya datang ke tokonya dengan berpeluh-peluh akibat naik bis kota yang sangat padat?

Dengan internet? Sulit….

Katanya pesan verbal hanya menyampaikan sekitar 30% dari seluruh pesan yang dapat diterima manusia. Pesan verbal masih lagi terbagi dalam bentuk tekstual (kata) dan non tekstual (intonasi). Maka dari itulah, dengan ilmu komunikasi yang comot dari sana sini sekenanya, saya berkesimpulan bahwa komunikasi internet yang mayoritas sangat tekstual hanya dapat menyampaikan pesan saya paling banyak 15% dibandingkan dengan komunikasi tatap muka.

Lima belas persen saja? Bahkan dengan semua kemudahan-yang-mengubah-gaya-hidup ini? Maaf-maaf saja, saya enggan mengalokasikan waktu saya untuk berhubungan dengan orang lain dengan metode yang efektivitasnya cuma sebegitu kecil. Mulai saat ini, saya akan dan harus bisa menyapih diri saya dari internet. Saya akan dan harus bisa berlelah-lelah dan meminimalkan intervensi internet dalam hidup saya dan cara saya berkomunikasi.

Tapi saya juga tidak mau bercerai dengan internet sih….

----------------------------

( ditulis dalam rangka Bhinneka Blog Competition di http://www.bhinneka.com )