Monday, May 21, 2007

Catatan liburan 4 hari (17-20 Mei 2007)

Part 1: Day 1, 17 Mei 2007
Nggak tidur semalaman, soalnya pesawat take off jam 6.30, berarti harus tiba di bandara jam 4.30, berarti harus berangkat dari asrama jam 3.30 dinihari. Akhirnya begadang dengan main game.
Jam 4 tiba di bandara, bandaranya belum buka, soalnya kru airline juga baru berdatangan. Akhirnya baru cek in jam 4.30. Nunggu di gate C4 sampe jam 6.30. Duduk di seat 7E, seat tengah yang tak saya suka. Untungnya tidak kejadian lain yang lebih mengesalkan. Apalagi mas2 yang duduk di 17F bawa laptop lenovo dengan OS LINUX SuSe yang keren nan canggih. Di akhir penerbangan dia mutar triller film2 keren. Orang itu keren juga gayanya: bawa2 laptop = melek komputer, apalagi OSnya LINUX. Outfitnya juga lumayan: longsleeve ijo tua, celana panjang hitam, sepatu kets gak tau merk apa tapi oke. Pokoknya kesan anak muda ubersexual terpancar kuat dari dia (gak tau ubersexual apaan? Googling aja :D) .
Dijemput bapak n adekku tercinta. Tiba di rumah jam 11.30 setelah singgah di penjual anggrek (ini hobi bapak), singgah ditilang polisi (ini khilaf bapak yang salah belok) n singgah di RS Bersalin Muhammadiyah 3 (ini tempat kerja bapak). Nyampe rumah, ketemu ibuku tercinta, trus makan. Ini yang paling kusenangi saat pulang ke rumah: menikmati masakan khas jl. Kakatua no. 29, Makasar.

Wednesday, March 28, 2007

Cerita tentang gumpalan benang (1)

- Hidup itu apa sih?
+ Bagi saya, hidup itu gumpalan bola benang raksasa sebesar bumi, dan setiap kita adalah serat yang menyusun selembar benang.
- Apakah semua manusia terhubung satu sama lain?
+ Tentu saja, setiap serat dalam gumpalan itu tentu terhubung satu sama lain. Namun tentu saja tak semua serat itu terhubung secara langsung dengan yang lain. Tetap saja, setiap serat dalam bola benang raksasa itu terhubung.
- Menurutmu, apakah saya sudah terhubung dengan jodoh saya?
+ Ajukan pertanyaan yang tepat dan jangan tanyakan yang sudah kau tahu
- Apakah sekarang saya sudah mengenal jodoh saya?
+ Ajukan pertanyaan yang tepat, atau kutendang kau dari sini!
- Oke, oke. Kamu itu siapa sih?
+ Saya adalah bola benang, saya adalah serat. Saya adalah semua yang kau tahu. Dan saya adalah kamu.

Tuesday, February 13, 2007

Jaga IGD Bedah pertama

Jakarta, 13 Februari 2007

Pengalaman jaga di IGD bagian bedah pertamakali pasti berkesan buat semua yang pernah melakukannya. Begitu juga saya. Jaga bedah pertama saya, meskipun sangat melelahkan akibat pasien yang terus menerus masuk membanjir, sangat berkesan.

Yang paling berkesan, tentunya, adalah pengalaman pertama masuk kamar operasi yang biasa disingkat OK. Waktu itu, ada satu dokter calon spesialis (disebut juga residen) yang perlu bantuan di OK. Dia minta bantuan ke ko-as pria. Maka ikutlah saya ke OK dengan residen junior itu. Sebenarnya saya tak tahu apa-apa tentang prosedur apapun di ruang bedah, bahkan lokasi baju bedah yang bersih pun saya tak tahu. Tapi saya ikut saja dengan residen itu, yakin bahwa dia akan mengajari saya apapun yang diperlukan. Keyakinan yang timbul dari perasaan bahwa dalam pengertian tertentu, sesama junior (saya koas junior, dia residen junior) akan saling “menjaga”. Tapi, yang bikin saya seyakin itu ikut ke OK adalah karena dia residen bedah perempuan yang paling imut dan manis yang pernah saya temui. Dan saya senang sekali berada di sekitar perempuan yang menawan.

Begitulah, saya berganti pakaian di ruang ganti pakaian dan masuk ke OK. Ada beberapa kamar operasi di sana, masing-masing dengan peralatan lengkap. Selain kasus yang akan saya bantu, ada satu operasi lain sedang berjalan. Mesin entah apa itu yang berbunyi konstan tiap detik bergaung ke seluruh ruangan membawa semacam perasaan menenangkan bahwa masih ada kehidupan di sana. Tanpa bunyi itu, aura OK sungguh steril, bersih, tak bernyawa.

Tak lama kemudian, pasien yang akan ditangani tim kami sudah siap di salah satu OK. Residen cantik yang tadi mengecek persiapan terakhir. Saya setia mengikuti di belakangnya, tak peduli akan kesan betapa tak berpengalamannya saya. Kami berdua pun memakai masker dan topi bedah. Sepanjang yang saya amati, di seluruh ruangan itu, tinggal kami berdua yan belum memakai topi dan masker. Setelah itu, kami pun mulai bekerja.

Kasusnya ternyata bukan bedah sungguhan. Anak umur 4 tahun yang luka robek di lengan sepanjang setengah meter dan luka robek di kepalanya itu “cuma” perlu dijahit. Penjahitan sebenarnya bisa dilakukan di ruang IGD di lantai 1. Namun kondisi super-heboh dan super-ramai di lantai 1dan pasien anak yang tak mengerti apa-apa selain rasa sakitnya, tak mungkin merawat luka itu dengan mudah.

Ada 3 residen termasuk residen cantik itu, 2 perawat dan 1 koas (yaitu saya) yang menangani anak itu. Sebelum residen pria yang lebih senior mulai bekerja, anak itu tertidur dengan tenang seolah tak ada daging menjuntai yang sangat lebar di lengan kanannya. Saya memandangi wajah polos anak itu selagi dia tertidur sementara di latar belakang bunyi konstan dari mesin di ruang sebelah seperti meyakinkan bahwa anak ini masih hidup dalam mimpinya yang damai. Entah kenapa, rasa damai itu juga menular ke dalam saya, setidaknya sampai residen pria yang lebih senior memasukkan obat penenang lewat anus anak itu.

Perawat menyiapkan alat steril. Residen operator memulai prosedur penjahitan. Residen senior yang memandu residen operator sambil memegangi lengan kiri anak itu. Residen junior memegangi kepala anak itu dan saya menahan kaki. Kami bekerja tanpa banyak bercakap namun tiap kali keadaan menjadi terlalu tenang, ada saja seseorang mulai berkomentar. Saya mencoba ikut sewajarnya dalam setiap percakapan namun tak kuasa mengalihkan pandangan dari satu-satunya wanita di ruang itu: sang residen junior.

Suatu ketika, residen senior membuka percakapan dengan residen junior. Saya diam saja, dan lebih diam ketika tahu dari percakapan itu bahwa wanita cantik di depan saya ini, yang semakin menawan di balik maskernya dan kalung berinisial A di lehernya, sudah menikah dengan seorang spesialis saraf dan punya satu anak. God! I was staring to a beautiful yet married woman. Tapi, saya tetap bersyukur bahwa saya masih bisa menyukai dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan dalam wujud seorang wanita. Still of course, I was wishing that I were the lucky neurologist.

Aku sakit

Jakarta, 28 Januari 2007

Aku sakit. Tidak tampak dari luar, tapi kurasakan di dalam. Aku adalah contoh nyata keganjilan alam. Aku berpikir terlalu banyak, terlalu sering, tentang terlalu banyak hal yang sama sekali tidak penting, setidaknya tidak penting bagi kelangsungan hidupku sebagai mahasiswa kedokteran tingkat IV. Aku bisa berpikir tentang seseorang yang melintasiku saat menyeberang selama belasan menit sebelum aku bisa mengalihkan pikiran ke hal lain. Aku berpikir tentang hal-hal selagi di kamar mandi. Sejujurnya, aku paling sering memikirkan hal-hal tak penting itu ketika sedang mencuci pakaian atau mandi pagi, atau selagi buang air besar. Selain kamar mandi, tentu saja angkutan umum atau pasar swalayan. Bising di kepalaku seperti bantal kapuk yang robek akibat perang bantal dan bertebaran isinya. Memenuhi semua tempat. Hanya ada dua yang bisa meredamnya: tidur atau menulis (sebenarnya bukan menulis betulan; hanya bermain dengan pena atau papan tuts komputer). Tentu saja jauh lebih sering dan lebih gampang yang pertama daripada yang kedua. Gara-gara bising internal itulah aku sering sulit mengungkapkan sesuatu dengan gamblang dan jelas. Dan itu semakin menyiksa ketika keadaan mengharuskan tidak tidur atau menulis.

Semakin lama kurasa aku semakin sakit. Dan obatnya tak kunjung muncul.

Saturday, January 06, 2007

I think I'm an Indigo

I've just read a book by Lee Carroll and Jan Tober titled "The Indigo Children". My conclusion when I finished the book is that I have some of the attributes regarded to those called Indigo.
That book forced me back to my not-so-happy-childhood which I thought I've forgotten....

Thursday, July 13, 2006

Tiga

Dua hari lalu saya lulus tingkat tiga dengan IP 2,96, nyaris 3,00

Tiga belas hari lagi ulang tahun berarti tiga belas hari lagi saya masuk ke masa tiga-tahunan ke-8 dalam jangka umurku
berarti masa tiga-tahunan ke-7 dalam karir pendidikan setelah SD 2x3 tahun, SLTP 3 tahun, SMU 3 tahun dan kuliah kedokteran preklinik 3 tahun.

Siap untuk pacaran yang ketiga kalinya.

Monday, June 12, 2006

Long time no write

It's been a very long time since the last time I really write something in this blog. Maybe I'll just write something not really important now.
Three months ago my mind only focused on how to spend the left times of a day after 2 hours discussion session at my college. Now I need to think about TBM-SMFKUI since I'm the chairperson, about my class' charity event which will take place in less than a couple weeks, and I've becoming more busy after Yogyakarta earthquake since I have to conduct the preparations of student volunteers who are needed at the place of disaster. Fyuuhh, it has all done and I can focus to other thing, like my class' charity events @ Cianjur, June 23rd-25th 2006.
Gitta Reno Cempako and R.A Dewi Utari, my friends from 2003 International Class of Faculty of Medicine, had left to Melbourne 3 days ago. They'll study there for a year, so it's expected to see them again in mid-3007. I went to the airport to say goodbye, but I was too late that they already boarded to the plane when I arrived. So I just phoned from outside.
Today I plan to watch X-Men III even though my friends who saw it before me told me the freakin' spoilers. Arrggghh!!! But still, I wanna see how Cyclops, Prof. X and Jean Gray died (here comes another spoiler :P)
Okay, I guess I've written much, so I'm signing out now. Bye!!!

Friday, April 14, 2006

Luckily there's something called "blog"

Luckily there's something called "blog". I just formatted my PC few weeks ago and guess what...my "creative writings" was gone! Almost three years of words just disappeared from my PC.
But I wasn't so freaked out when I found the fact because I remembered publishing some of it at my blog. I couldn't figured out how screwed I would be if those writings really gone.

Monday, March 13, 2006

Karya debutan cerita 100 kata

Ratusan lilin berpendar kuning digoda riak kolam jernih, menyala kaku dalam lirih dan ketundukan pada keanggunanmu. Malam purnama berawan tinggi dan gemintang memuji luhurmu. Bahkan semesta pun diam demi saripati keindahan yang mengaura dari jasadmu. Sungguh, betapa makna kesempurnaan begitu mendekati sosokmu yang utuh jiwa raga.


Ketika dia datang, segala meluntur. Dia menyongsongmu dengan bibir tertarik ke samping. Lenganmu dipegangnya seperti memegang tali kasar gembalaan. Ah, hanya bagian paling buas dari sisa kalbuku yang sanggup menerima ini.

Begitulah aku hangus mengarang di ujung meja, memandangi kalian merayakan ulang tahun pacaran yang kelima. Dan ucapnya padaku, "
Thanks for the party, Bro!"

Sunday, February 19, 2006

Crap! It was a simple and honest words but it really shocked my earth that one of the people I should have been cared felt that I was never there for her. What kind of brother am I?

Sunday, December 11, 2005

Kucing-kucingan

Hari ini (Minggu, 11-12-2005) saya dapat pengalaman baru yang aneh waktu pulang dari jalan-jalan dan singgah makan siang di warteg langganan. Selagi makan, ada kucing yang jongkok di bawah saya. Saya pikir, kucing memang biasanya dekat-dekat orang makan dengan harapan dapat sedikit tulang ikan atau sisa-sisa lauk. Tapi kucing yang satu ini lain.
Saya baru menyadari bahwa ada kucing di antara kaki saya setelah secara naluriah saya menunduk ke bawah dan mendapati seekor kucing yang aneh. Saya sering melihat kucing rumah ataupun kucing jalanan jadi saya tahu kucing yang satu ini benar-benar aneh.
Tatapan matanya bukan tatapan mata kucing biasa. Dia hanya menatapi saya tetapi entah kenapa saya merasa dia sedang berbicara pada saya, meminta sedikit lauk. Mata itu,...memilukan. Dia tidak mengeong atau mengelus-eluskan kepalanya ke kaki saya. masih terlingkupi rasa heran, saya lemparkan sedikit lauk saya. Dia pun makan.
Saya melanjutkan makan. Iseng-iseng saya perhatikan lagi kucing itu. Dia sudah menghabiskan pemberian saya dan kembali memohon dengan tatapan pilunya itu. Kali ini saya tak mengacuhkan dia. Tak dinyana, dia melakukan gerakan yang lebih mengejutkan: dengan kaki kanan depannya dia menyentuh kaki saya, persis seperti pengamen yang mengulurkan tangan kanannya mengharapkan imbalan. Saya tersentak. Gila! Ini kucing kalau tidak sangat pintar pasti bukan kucing biasa. Mana ada kucing yang menyentuh dengan kaki kanan depan untuk minta makan? Akhirnya saya beri lagi sedikit lauk.
Kalau reaksinya tadi mengejutkan, reaksinya mendapati pemberin saya jauh lebih aneh. Dia tidak mau memakannya. Kebetulan yang terakhir saya beri berupa sepotong jantung ayam utuh. Dia mengeong sambil menarik-narik makanannya. Seakan-akan yang saya berikan itu tidak sesuai seleranya. Cukup lama dia mengetes jantung ayam itu, mengendusnya sejenak, mencoba menggigitnya sebelum kemudian meninggalkannya. Akhirnya kucing lain yang juga sedang mengendus-endus makanan melahap jantung ayam itu.
Setelah melihat ada kucing lain memakan lauk yang saya beri pada kucing aneh itu, saya semakin yakin bahwa itu bukan kucing biasa. Saya berpikir kucing itu punya atau pernah punya secuil jiwa yang bukan jiwa kucing. Jiwa manusia, mungkin. Saya bahkan berpikir mungkin kucing itu reinkarnasi seseorang atau dulunya manusia tapi dikutuk jadi kucing. Wallahua'alam bishshawab.

Monday, October 10, 2005

Di warung nasi uduk depan Wismarini

"My days, my days,the ones have long been gone so far.The best times of life."

Jakarta, 9 Oktober 2005

Malam Senin. Mobil motor angkot bus lewat kencang di jalan Otista Raya. Saya makan di warung nasi uduk depan asrama UI Wismarini. Mau foya-foya sedikit, soalnya tadi buka cuma dengan air putih seteguk. Makan sendirian, seperti biasa.
Menu malam ini: soto ayam es jeruk. Tujuh ribu. Suapan pertama langsung terasa: sotonya agak terlalu gurih dan es jeruknya kurang gula. Sudahlah. Lanjut dengan suapan kedua sampai itu piring licin, itu mangkuk bersih, itu gelas tinggal berisi es. Di antara suapan-suapan, datang tamu tak diundang. Munculnya tiba-tiba, efeknya langsung terasa. Saya teringat ruang makan di SMU saya yang berasrama saat melihat potongan ayam di soto saya.
Ruang makannya disebut ruang saji. Lebarnya kira-kira 10 meter, panjangnya kira-kira 40 meter. Meja-meja kayu untuk enam orang berderet rapi tiga-tiga. Di luar jam makan atau kudapan jam 10 pagi, di atas tiap meja tersusun rapi 6 gelas dan sebuah tempat air minum yang selalu penuh. Di ujung ruangan ada meja panjang khusus untuk guru, staf dan tamu sekolah kalau ada. Kadang-kadang alumni yang berkunjung juga diajak guru makan di meja guru.
Sebenarnya tiap siswa bisa duduk di meja mana saja, tapi mereka biasanya sudah tahu di meja mana dia merasa paling nyaman setelah semester pertama. Entah karena posisi mejanya paling dekat ke dapur sehingga tidak jauh dari sumber makanan, ataupun karena orang-orang yang biasa duduk di meja tersebut adalah teman-teman dekatnya.
Waktu kelas 1, saya sering duduk di meja deretan tengah, paling jauh dari meja guru. Teman semeja saya laki-laki semua dan tidak tetap. Waktu kelas 2, saya duduk semeja dengan petinggi-petinggi OSIS (kelas 3) yang memilih meja yang paling dekat dapur. Mereka itu, selain aktif di kegiatan ekskul, juga aktif dalam hal mengunyah. Seringkali meja kami yang kosong paling akhir saat makan malam. Yang paling berkesan adalah meja saya waktu kelas 3. Posisinya paling ujung ke arah meja guru sebelah kiri. Di antara meja guru dan meja saya, ada satu deret meja lagi yang memisahkan. Penghuni tetap meja itu selain saya adalah Ihsan, Alif, Restu, Fajar dan Icha. Saya dan Ihsan kelas 3 IPA 1, Alif kelas 3 IPA 2, Fajar kelas 2.1, Restu dan Icha kelas 1.2.
Ihsan adalah teman kamar saya selain dua orang lain lagi (Efi dan Awi). Alif teman saya dari SD, bukan teman kamar tapi sering nongkrong di kamar saya. Fajar tinggal dua kamar di sebelah kamar saya, juga sering nongkrong. Restu adalah siswi baru yang kami (saya, Alif, Ihsan dan Fajar) nilai cukup bernyali untuk datang ke meja empat senior cowok pada suatu siang di bulan pertamanya sebagai siswi SMU. Jadilah dia anggota kelima meja kami. Karena satu kursi masih kosong, kami sepakat mencari siswi kelas 1 lagi agar Restu tidak “sendirian” di meja itu. Beberapa orang tidak pernah bertahan lebih dari sekali sampai akhirnya Icha muncul dan bertahan.
Kami berenam selalu berusaha makan bersama di meja itu siang dan malam kecuali ada hal-hal lain. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat kami mendapat menu makan siang istimewa.
Sebulan sekali, atau dua bulan sekali, atau sesemester sekali (tergantung tuah dari langit), menu makan siang istimewa kami berupa opor ayam dengan potongan kentang. Hari itu adalah rezeki para siswa yang sudah terbiasa dengan tempe dan tahu. Sejak melewati pintu masuk sampai tiba di meja masing-masing, wajah-wajah ceria terpasang di mana-mana. Tak terkecuali kami.
Jika menunya ayam, meja yang biasa makan sebakul, bisa jadi dua bakul. Yang biasa dua bakul jadi dua setengah bakul. Meja kami hari itu tercatat tiga kali menambah nasi yang biasanya cuma sekali. Semua meja di sekitar meja kami terheran-heran. Saat yang lain sudah meletakkan sendok, di meja kami cuma Restu dan Icha yang tidak berkutat dengan potongan ayam yang belum habis setengahnya. Bakul keempat tidak habis karena kerongkongan manusia hanya bisa melewatkan dan bukan menyimpan makanan.
Sejujurnya, kami juga heran sendiri. Maka analisis pun diluncurkan. Penyebab utama: menu istimewa. Penyebab sampingan: tidak satupun dari kami yang makan pagi dan mengambil jatah kudapan jam 10. Penyebab lain: kami adalah empat cowok dan dua cewek yang terkenal tetap lahap meskipun menunya tidak begitu membangkitkan selera.
Rasanya keceriaan dan tawa yang selalu hadir di meja itu nyaris mewujud di depan saya, di pinggir jalan Otista Raya. Saya segera membayar lalu pergi sambil menghembuskan napas panjang kerinduan.

Inspirasi sebelum sahur

Jakarta, 6 Oktober 2005 jam 2 pagi.
Keindahan malam-dini hari adalah saat kau mendengar napasmu satu-satu, menghirup lamat-lamat aroma melati sambil memandang ke arah atas tempat gemintang bercokol.
Di jalan raya depan sana lampu jalan besar menumpahkan kuning sinarnya pada kelabu aspal yang mendingin.
Mobil, angkot, taksi lewat malu-malu di bawah lampu yang menyala merah. Sebagian sok patuh pada warna dan lebih banyak jalan saja (meskipun ukuran "banyak" tidak relevan pada jam 2 pagi).
Di dalam kamar dengung kipas komputer bertimpalan dengan geleguk perutmu yang mulai kosong sehabis makan malam 4,5,6 jam lalu, dihiasi serangga nokturnal khas sekali.
Di dalam kepalamu yang baru menyala pada jam segini, beribu kata hendak mewujud namun sayang jarimu belum cukup terampil bermain dengan papan ketik sampai akhirnya kau cuma bisa duduk diam depan komputer, garuk-garuk.
Tanganmu menggelantung bebas di atas papan ketik, tidak tahu apa pikir si empunya tangan.
Ah, seharusnya kau tahu, pada jam 2 pagi otakmu yang keseringan mengunyah Hollywood itu lebih bisa menangkap tulisan di buku kuliah kedokteran setebal bantal. Malah kau sibuk bolak-balik kumpulan tulisan Umar Kayam "Dialog".
Hei, anak muda, waktu-waktu emas seperti ini terlalu berharga untuk kau buang di depan komputermu yang melambat atau dalam tenggelammu di antara huruf-huruf bukan bahan kuliah.
Tapi terserah kau sajalah. Memang selalu lebih enak melayani keinginan dibanding kebutuhan.
Sebentar lagi modin dari mesjid pinggir jalan raya bangun. Membangunkan orang yang mau memasak buat sahur, yang mau sahur, dan yang terlalu lelap untuk sahur.
Cepatlah, mbakyu-mbakyu warteg 24 jam tongkronganmu menunggu.

Wednesday, August 24, 2005

Catatan liburan semester 4 menuju 5

Liburan panjang semester ini = 5 minggu pulang kampung = perbaikan gizi = naik 9 kilo = nggak kuat push up lagi = nggak berolahraga
5 minggu di rumah = makan-tidur-nonton TV-jalan bareng temen SMA-nongkrong di kampus orang (UNHAS)-jaga rumah = frekuensi surfing berkurang karna warnet jauh n dial up dari rumah mahal = blog nganggur lama.
Jalan-jalan ke SMA-ku = kenalan sama adek kelas + ritual pertemuan alumni.
Ketemu sama teman-teman, yang lama dan yang baru. Berusaha lupakan perasaan terhadap seorang "teman" lama. Usaha yang gagal.
Baca buku-buku: Supernova (KBPJ+ Akar+ Petir), Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran, Bahasa Menunjukkan Bangsa (belum selesai sampai sekarang), Ayat-Ayat Cinta, Tirani dan Benteng+Malu Aku Jadi Orang Indonesia (keduanya kumpulan puisi Taufiq Ismail), dll.
Beli beberapa kaset, sebagian beraliran New Age.
Nonton film baru di bioskop. Sendiri ataupun bareng teman, hari Senin (no-mat) ataupun hari lain. Film bermutu ataupun bikin ketawa.

Tuesday, July 05, 2005

Sunatan Massal

Hari Minggu lalu (3 Juli 2005) saya ikut sunatan massal (harap dicatat, ikut NYUNAT, bukan disunat). Yang bikin acara PT. SCTI, produsen kain di Ciracas. Nyunatnya seharian di markas mereka. Singkat cerita, jam 7 pagi kita (baca: anak-anak TBM) udah ngumpul di IGD RSCM, coz bis yang bakal bawa kita ke Ciracas nuggu di sana. Setelah beberapa menit nunggu yang telat, berangkatlah itu bis ke Ciracas. Anak-anak TBM yang nggak ikut di bis nyusul langsung ke lokasi.
Syahdan, (berasa kayak hikayat Melayu kuno nih ;P) tibalah kita di PT. SCTI itu. Pas turun, disambutlah kita dengan tuan rumah yang langsung ngarahain ke ruang makan pabrik. Sarapan dulu nih, nyaamm. Saya ngambil nasi goreng bakso plus telur dadar, nggak lupa sambel terasi. Abis itu nambah sambel,…sekalian nasi juga. Ujung-ujungnya blum apa-apa makan kenyang gratis aja, hehehe (sfx mode: sendawa).
Selesai makan pagi, ketua rombongan alias dokter muda Jacky Desfriadi ngumpulin kita buat taklimat (this is the Indonesian word of “briefing”). Standarlah, kita-kita berdoa, diingatin buat selalu bersikap profesional, blablabla (sfx mode: ngangguk-ngangguk). Abis Jacky, giliran dokter (FYI, there’s no such thing as “dokter tua”) pemberi job yang ngasih inget lagi tahap2 motong “barang” orang, n agar SELALU berhati-hati, soalnya ini berkaitan dengan masa depan seseorang. Kan berabe juga kalo kepala “barang”nya ikut kepotong. Bisa-bisa dituntut malpraktik lagi (sfx mode: muka waspada celingak-celinguk)
Dan meluncurlah kita dalam formasi tiga-tiga ke “ruang bedah”. Satu orang yang ngerjain si anak (“operator”), satu yang bantu ngerjain (“cooperator”), satu lagi urusan nyiapin alat n jadi pembantu umum (“instrument”). Saya dapat empat anak, dua kali jadi co-op, dua kali jadi instrument. Sebelum yang kemarin itu saya baru sekali ikut sunatan massal, jadi blum kesampaian jadi op. Nggak papalah, yang penting ilmunya udah nambah.
Sehabis makan siang n salat, kita beres-beres. Pasiennya sengaja disunat semua sebelum istirahat biar nggak nganggung. Pas mo pulang, ada oleh-oleh dari yang bikin acara berupa kain bahan pakean warna biru tua (sfx mode: “YAY! Seneng banget!”). satu orang dapat satu. Kainnya lumayan lebar, kira-kira 1x4 m. Bisa jadi 2 pakean tuh.
Jam 4 rombongan cabut lagi ke kampus. Awalnya sih, bengong doang di jalan, paling-paling ngobrol. Nggak lama kemudian, ada yang bawa kartu. Ada juga yang ngusulin main Pancasila lima dasar. Jadinya rame deh, yang depan main Pancasila, yang belakang main truf (FYI, truf adalah permainan kartu favorit anak TBM). Saya ikut main truf n nggak pernah kalah, soalnya pasangannya jago sih, :D. Yang main Pancasila mainnya aneh bener, soalnya yang harus disebut itu judul film India. Bleh. Ada astu orang yang kayaknya nggak pernah kalah, namanya Indah. Dia ketua TBM sih sebenarnya, tapi ya gitu deh, kadang-kadang bisa ditandingin dengan H.Bolot, Bajuri, Aming, dll. Ancur bener deh pokoknya.
Jam setengah lima bis nyampe di kampus. Anak-anak pada pulang ke rumah. Sebagian nongkrong di ruang TBM dulu, ngadem. Contohnya saya. Abis ngadem beberapa menit sambil main truf (lagi!) saya pulang ke asrama dengan badan yang kayak abis dipaksa ngangkat batu-batu segede orang. Capek bener. Kalo saya aja capek gini, gimana Jacky yah, padahal di masih harus jaga Obgin di RSCM. Salut bener deh buat dia.