One Honolulu's Saturday night saw me walking downhill alone after the
rain had stopped, so the silent bus stop offered me a seat; it didn’t
say a show was about to start. Some seconds later, an impromptu fountain
art performed just for me by a bursting, (un)-timely sprinkler; much
like the jazz radio inside my ears, only wetter. My skinny little
fingers started to tap under the spell cast on eyes and ears. That
wasn’t a bus stop; that was a teleporter to a hearty, smoky jazz club
back in '64.
Countless time passed, the artist
concluded. I was returned then and there; that magical moment ended so
the little boy in me trundled; exactly like when Papa held my hand back
home from my favorite kingdom park many, many birthdays ago.
------
Honolulu, May 26, 2014
Tuesday, May 27, 2014
Tuesday, February 18, 2014
Forever Not, An Arrow Flies
Between the two lands, between the two realms
Self-inflicted bondage pulled me to both dreams
Recycled friendship and sterilized crosshair;
I’m a cursed arrow, forever in flight
Like the days of Arctic without a night
Spread too thin, strained too hard,
Cast too far, lost all guard
Of all sense, ‘tis the worst
Limping soul, walking ghost
Sandy feet left no print
Gulped away by the blue
Thankfully,
A bottled message washed ashore
Words from home washed my sore
-----------------------
Honolulu, February 17, 2014
Tuesday, January 28, 2014
“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (Part 4. Finally)
August 15, 2013 at 10:37am
Saya mengetik ini kira-kira 10 ribu meter di di atas Samudera Pasifik. Di monitor, ikon pesawat kecil sedang berada di tengah-tengah, menghadap ke kanan; ke benua Amerika. Di kanan saya seorang desainer sepatu dari Meksiko dan di kiri saya seorang ibu dari China. Saya sudah bisa bilang sama Pak Anies Baswedan,” Pak, berdasarkan definisi Bapak, saya sekarang sudah Fulbrighter betulan.”
Berada di pesawat ini membuat fase pasca memasukkan berkas online menjadi sangat singkat. Frase “tidak terasa” muncul di kepala saya. Tapi yakinlah, itu sangat terasa karena waktu habis setahun di antara kedua kejadian itu.
Ketika saya harus mengikuti Diklat prajabatan sambil mempersiapkan ujian TOEFL dan GRE.
Ketika saya diminta memilih lima universitas yang sesuai dengan bidang saya.
Ketika harap-harap cemas menunggu jawaban dari kelima universitas tersebut.
Ketika akhirnya jawaban dari Amerika datang satu persatu; kadang bikin melompat kegirangan; kadang bikin gigit jari.
Ketika saya mulai mengenal kandidat lain lewat facebook dan lewat Pre-departure Oritentation di Surabaya; perkenalan yang membuat kami akhirnya bisa saling mencela tanpa ada yang tersinggung.
Ketika jawaban atas pertanyaan “kapan berangkat” mulai berubah dari tahun menjadi bulan menjadi tanggal.
Ketika istri saya yang sangat hebat, yang saat itu sedang hamil besar, melalui hari-harinya mempersiapkan Lebaran sambil mempersiapkan kelahiran anak kami sambil mempersiapkan keberangkatan saya. Dua koper saya, satu tas perlengkapan melahirkan punya dia dan satu lagi punya si bayi perlahan-lahan mulai terisi hingga penuh.
Ketika istri saya akhirnya saya larikan ke rumah sakit delapan jam sebelum saya memulai perjalanan Fulbrighter dari Makassar
Ketika putri kami, Alma, lahir saat saya sedang mengikuti briefing pra-keberangkatan di AMINEF Jakarta.
---
Ada banyak sekali tips yang mau saya bagi tentang semua tahap itu. Namun sekarang semuanya terpendam jauh di dasar memori; tertimpa adukan rasa kegembiraan, kesedihan, kekhawatiran, kepasrahan, dan keyakinan. Tentang keluarga; tentang pendidikan; tentang rezeki yang tidak ada henti; tentang harapan dari semua orang yang tertumpu di pundak seorang Fulbrighter, seorang suami, seorang bapak, seorang anak, seorang kawan, seorang dosen, seorang murid, seorang Indonesia.
Pesawat yang saya tumpangi ini bukanlah Garuda, Delta, atau United. Pesawat yang saya tumpangi bernama Harapan dan bahan bakarnya adalah doa dan dukungan dari kalian dan jutaan orang lain. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sejauh ini.
Salam dari Amerika.
Saya mengetik ini kira-kira 10 ribu meter di di atas Samudera Pasifik. Di monitor, ikon pesawat kecil sedang berada di tengah-tengah, menghadap ke kanan; ke benua Amerika. Di kanan saya seorang desainer sepatu dari Meksiko dan di kiri saya seorang ibu dari China. Saya sudah bisa bilang sama Pak Anies Baswedan,” Pak, berdasarkan definisi Bapak, saya sekarang sudah Fulbrighter betulan.”
Berada di pesawat ini membuat fase pasca memasukkan berkas online menjadi sangat singkat. Frase “tidak terasa” muncul di kepala saya. Tapi yakinlah, itu sangat terasa karena waktu habis setahun di antara kedua kejadian itu.
Ketika saya harus mengikuti Diklat prajabatan sambil mempersiapkan ujian TOEFL dan GRE.
Ketika saya diminta memilih lima universitas yang sesuai dengan bidang saya.
Ketika harap-harap cemas menunggu jawaban dari kelima universitas tersebut.
Ketika akhirnya jawaban dari Amerika datang satu persatu; kadang bikin melompat kegirangan; kadang bikin gigit jari.
Ketika saya mulai mengenal kandidat lain lewat facebook dan lewat Pre-departure Oritentation di Surabaya; perkenalan yang membuat kami akhirnya bisa saling mencela tanpa ada yang tersinggung.
Ketika jawaban atas pertanyaan “kapan berangkat” mulai berubah dari tahun menjadi bulan menjadi tanggal.
Ketika istri saya yang sangat hebat, yang saat itu sedang hamil besar, melalui hari-harinya mempersiapkan Lebaran sambil mempersiapkan kelahiran anak kami sambil mempersiapkan keberangkatan saya. Dua koper saya, satu tas perlengkapan melahirkan punya dia dan satu lagi punya si bayi perlahan-lahan mulai terisi hingga penuh.
Ketika istri saya akhirnya saya larikan ke rumah sakit delapan jam sebelum saya memulai perjalanan Fulbrighter dari Makassar
Ketika putri kami, Alma, lahir saat saya sedang mengikuti briefing pra-keberangkatan di AMINEF Jakarta.
---
Ada banyak sekali tips yang mau saya bagi tentang semua tahap itu. Namun sekarang semuanya terpendam jauh di dasar memori; tertimpa adukan rasa kegembiraan, kesedihan, kekhawatiran, kepasrahan, dan keyakinan. Tentang keluarga; tentang pendidikan; tentang rezeki yang tidak ada henti; tentang harapan dari semua orang yang tertumpu di pundak seorang Fulbrighter, seorang suami, seorang bapak, seorang anak, seorang kawan, seorang dosen, seorang murid, seorang Indonesia.
Pesawat yang saya tumpangi ini bukanlah Garuda, Delta, atau United. Pesawat yang saya tumpangi bernama Harapan dan bahan bakarnya adalah doa dan dukungan dari kalian dan jutaan orang lain. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sejauh ini.
Salam dari Amerika.
What Lacks in Heaven
I’ve dwelled in a land called heaven
Where colors of the sky are always seven
Yet in this Eden I’m nothing but bone
Yanked and split and far I was thrown
Bearing my cracks far deep within
No more the drops that seep and clean
I wish there’s red still left in my marrow
To smear the cloud with the scraping arrow
Flickering stars, flickering pleas
None would deliver but the One Who Sees
Bath me not in milk
Cloth me not with silk
Lull me not with the song of a Siren
Whose eyes are blinding and scales are burning
For what I’ve yearned is just a rain
Warm rain that hugs and laughs and loves
A rain for me and no one else.
--------------------------------------
Honolulu, January 27, 2014
Monday, September 09, 2013
A student-wayfarer in Honolulu
Fourth Saturday night in
Honolulu. A hundred plus Indie Rock songs blaring out from the laptop.
After dinner, I continue my weekly ironing with the new Black and
Decker. Previously I used shared iron belongs to the dorm which melted
it's own plastic.After that, the black leather shoes I brought from
Indonesia had their first ever Hawai'ian pampering with some water and
Kiwi polish. Some military-looking guy in Youtube showed me how to do it
many, many years ago.
All is well in Honolulu. In this capital of leisure and vacation, once more I become a wayfarer; a student-wayfarer. Courses may be more advanced than what I was prepared for, but everyone is so helpful to this kid.
Did I mention that I live in THE vacation place? Well, I haven't even venture farther than the campus and Walmart, but I did scratch my lovely blue pen in Fodor's tourist guidebook "O'ahu and Honolulu". I dive with the green turtles, ride the monster surf on North Shore, sip the Aloha spirit from every Hawai'ians, all in my dreams after passing out from that book. Dreams are free, they said. Vacations? Not so much.
Yeah. I'm a student AND a wayfarer. Twice the poorer. Which was elegantly noticed by a young lady staffing a perfume booth at Ala Moana Center, the biggest (and maybe the only) open air mall in the whole country.
"Hi, Sir, where are you from?" she shot her first round. I don't need any perfume, and I know she's not gonna even offer me her collection once she knows what I do here. So I just smiled, nodded and waved. And kept walking.
"Hi, where are you from?
Persistent. A real saleswoman, then. "I'm from Indonesia.""Woooww!" The way she said that triggered some burst in my head.
"Do you even know where Indonesia is?" The burst in my head didn't reach my tongue. Thank God.
"How long have you been here? Are you on vacation?" She has some kind of European accent. Central European, maybe.
"No, I'm a student here." Aha! There's the off switch to any salesperson.
"How do find your study, then?" They taught her well. Before I knew, I explained more than what I expected. Thankfully she cued her goodbye.
"Well, good luck in your study,"
"Good luck to you too. Bye," I pulled away form her booth.
I felt a strange thing leaving that booth, 'though. Somehow I wanted to be offered one of those perfumes. I mean, that's what always happen in Indonesia when I have the heart to stop at a random "Hello" in the malls; I always ended up offered something: perfumes, health insurances, credit cards, motorbike installment plans, you name it.
Not this saleswoman. It seemed that she just wanted to have an honest little chat with me. On the other hand, the skeptic side of me was assured that she actually wanted to offer me something but turned off by the fact that I'm a student from some country she has never heard of.
I left Ala Moana choosing to believe that she was initially interested with the batik shirt I wore. The batik shirt was indeed a special one; it belonged to my late grandfather. My prayers for you there, Grandpa. Your grandson ventures again.
All is well in Honolulu. In this capital of leisure and vacation, once more I become a wayfarer; a student-wayfarer. Courses may be more advanced than what I was prepared for, but everyone is so helpful to this kid.
Did I mention that I live in THE vacation place? Well, I haven't even venture farther than the campus and Walmart, but I did scratch my lovely blue pen in Fodor's tourist guidebook "O'ahu and Honolulu". I dive with the green turtles, ride the monster surf on North Shore, sip the Aloha spirit from every Hawai'ians, all in my dreams after passing out from that book. Dreams are free, they said. Vacations? Not so much.
Yeah. I'm a student AND a wayfarer. Twice the poorer. Which was elegantly noticed by a young lady staffing a perfume booth at Ala Moana Center, the biggest (and maybe the only) open air mall in the whole country.
"Hi, Sir, where are you from?" she shot her first round. I don't need any perfume, and I know she's not gonna even offer me her collection once she knows what I do here. So I just smiled, nodded and waved. And kept walking.
"Hi, where are you from?
Persistent. A real saleswoman, then. "I'm from Indonesia.""Woooww!" The way she said that triggered some burst in my head.
"Do you even know where Indonesia is?" The burst in my head didn't reach my tongue. Thank God.
"How long have you been here? Are you on vacation?" She has some kind of European accent. Central European, maybe.
"No, I'm a student here." Aha! There's the off switch to any salesperson.
"How do find your study, then?" They taught her well. Before I knew, I explained more than what I expected. Thankfully she cued her goodbye.
"Well, good luck in your study,"
"Good luck to you too. Bye," I pulled away form her booth.
I felt a strange thing leaving that booth, 'though. Somehow I wanted to be offered one of those perfumes. I mean, that's what always happen in Indonesia when I have the heart to stop at a random "Hello" in the malls; I always ended up offered something: perfumes, health insurances, credit cards, motorbike installment plans, you name it.
Not this saleswoman. It seemed that she just wanted to have an honest little chat with me. On the other hand, the skeptic side of me was assured that she actually wanted to offer me something but turned off by the fact that I'm a student from some country she has never heard of.
I left Ala Moana choosing to believe that she was initially interested with the batik shirt I wore. The batik shirt was indeed a special one; it belonged to my late grandfather. My prayers for you there, Grandpa. Your grandson ventures again.
Monday, September 02, 2013
Marketing Food to Children: Anna Lappe at TEDxManhattan
One of the most powerful and most important TED/TEDx presentation I ever encountered. Anna Lappe, "We're talking about changing social norms.... To the junk food industry I say this: My children, ALL of our children, are none of your business."
I remember my cousin's birthday party at KFC in my hometown earlier this year and I can't agree more with Mrs. Lappe: there's a social "norm" that needs to be changed.
Wednesday, August 07, 2013
“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (Part 3. Online Application)
Setelah “kelulusan”
wawancara, seseorang yang melamar beasiswa Fulbright akan disebut candidate. Ini sebutan yang pada
hakikatnya (lagi-lagi) membuat harap-harap cemas. Dari definisi saja, kandidat berarti
calon, yang artinya bisa saja tidak jadi mendapat beasiswa. Tapi ada sisi
baiknya. Seorang candidate, baik principal maupun alternate, akan mulai merasakan kemanjaan yang dalam bentuk tiket
pesawat, kamar hotel, dan serangkaian tes-tes mahal yang semuanya dibayarkan oleh
AMINEF.
TAPIII,
sebelum merasakan kemanjaan itu, harus isi online application dulu…
Ini adalah
tahap seleksi berkas yang kedua. Jika pada tahap pertama, semua dokumen dikirim
dalam bentuk fisik ke kantor AMINEF di Jakarta, maka seleksi tahap kedua ini,
yang disebut online application,
lebih rumit. Aturan pengisiannya betul-betul detail dan mutlak dipatuhi. Kalau tidak,
online application itu akan error. Sebagai contoh, kalau di online application dibatasi 5 baris, ya
baris keenam tidak akan muncul di versi finalnya. Kalau aturannya 50 kata, ya
kata ke-51 tidak terhitung. Tipsnya? Baca
dan patuhi semua yang aturan pengisian. They
don’t put it there if it’s not important. Ingat sekali lagi bahwa
penyeleksi yang ada di AS sana menerima ribuan lamaran dari seluruh dunia.
Jangan main-main dengan mood mereka
dalam membaca lamaran kamu.
O ya, kalau
ada printer dan scanner yang bisa dipakai, itu akan sangat memudahkan. Ada
banyak dokumen yang harus dikirim dalam bentuk fisik DAN dalam bentuk file melalui
email ke AMINEF jika kita sudah selesai mengisi online application itu. Dokumen
tersebut adalah:
-
Hasil
pengisian online application. Jadi, setelah sukses mengisi formulir lewat
internet, akan ada laporan hasil pengisiannya dalam bentuk pdf. Cetak file pdf
ini untuk dikirim ke AMINEF dalam bentuk fisik dan dalam bentuk email.
-
Signature
form. Lembar ini akan otomatis muncul jika online application sudah terisi.
Ini semacam lembar pengesahan yang ada kolom tandatangannya. Cetak filenya,
tandatangani di kolomnya, lalu scan. Kirim fisiknya dan filenya ke AMINEF
-
Transkrip
nilai dan ijazah. Kirim dalam bentuk fisik dalam amplop resmi tersegel.
Nah, ini dia masalah saya sampai sekarang. Berkali-kali saya memesan legalisasi
transkrip dan ijazah ke Direktorat Pendidikan UI supaya hasilnya dimasukkan dalam
amplop resmi, namun tidak pernah dipenuhi. Apa susahnya sih ngasih amplop
berkop universitas??? Semoga kampus kamu tidak seaneh UI dalam hal ini. Jangan
lupa di-scan untuk dikirim lewat email juga. JANGAN MENGIRIM TRANSKRIP DAN IJAZAH
ASLI kamu. That’s YOUR life!!! Saya
perlu menekankan ini karena kadang-kadang kita (baca:saya) melakukan hal-hal
bodoh saking semangatnya.
-
Rekomendasi.
Umumnya institusi pendidikan tinggi di Amerika meminta minimal 3 rekomendasi. Jadi
karena saya sudah punya 1 surat rekomendasi waktu seleksi berkas awal dulu,
saya tinggal minta 2 orang lagi untuk menandatangani kenarsisan saya. Tapi ini
bukan asal narsis karena harus terkontrol (lihat
lagi tips “menyusun” rekomendasi di part 1). Kalau kamu beruntung, yang
kamu mintai rekomendasi akan membaca dan mengoreksi draft rekomendasi kamu. Kalau
tidak, selamat berjudi dengan kenarsisanmu.
-
Paspor.
Sebaiknya sejak awal ikut seleksi kamu sudah punya paspor atau paling tidak
mulai mengurusnya. Paspor Indonesia bersampul hijau. Ada paspor khusus
diplomat/ PNS yang tugas luar negeri yang bersampul biru. Untuk gampangnya, urus
paspor reguler saja. Nah, kalau sudah punya, scan halaman identitas paspor itu
lalu kirim ke AMINEF.
-
Resume.
Sejujurnya, sampai saat ini saya tidak terlalu paham apa beda Resume, Study Objective
dan Personal Statement. Tapi sebagai gambaran, resume intinya tentang diri
kamu: dulu sekolah di mana, sekarang kerjanya di mana, pekerjaan sehari-hari
seperti apa. Bentuknya paragraf yang harus muat dalam satu (1) halaman dan bukan
dalam bentuk kolom seperti yang biasa kita dapati di Indonesia. Aturan lain yang
jarang kita temui: RESUME JANGAN PAKAI FOTO. Aneh kan? Di negara kita yang
namanya resume, CV, daftar riwayat hidup, dan sejenisnya = ajang buat narsis di
pas foto. Nah, para penyeleksi Fulbright ternyata menganggap penambahan foto
dalam CV/ resume itu tidak etis dan hanya memperbesar ukuran file.
-
Study
Objective. Aduh… ini lagi, ini lagi…. Begitu pikiran saya ketika email
koreksi SO datang lagi dari AMINEF. Tapi apa boleh buat; tidak ada jalan lain. Ubah
SO sesuai saran staf AMINEF. O ya, saya lupa bilang di part 1 bahwa
di SO, tidak perlu mencantumkan nama
universitas tertentu meskipun kamu MAUUUUU sekali masuk universitas itu. Alasannya
karena semua dokumen yang kamu masukkan akan disebar ke 4-5 universitas yang punya
program studi sesuai keinginan kamu. Jadi kalau di SO kamu terkesan begini,”Pokoknya
saya mau sekolah di Harvard”, maka penyeleksi di Johns Hopkins mungkin akan
bilang,” Nih anak mau masuk Harvard, ya udah nggak usah kita pertimbangkan.”
Yang rugi siapa?
-
Personal
Statement. Resume saya anggap sebagai perkenalan diri (CV dalam bentuk paragraf).
Sementara SO itu berkisar tentang alasan
ketertarikan terhadap suatu bidang ilmu; terhadap prinsip mutual understanding yang mendasari pemberian beasiswa Fulbright;
terhadap kultur pendidikan tinggi di AS secara umum. Nah, personal statement itu adalah kesimpulan dari resume dan SO. Personal Statement adalah kata-kata
penutup dalam upaya kamu “merayu” penyeleksi di AS sana; gabungan dari “siapa saya”
dan “apa yang saya mau dari bersekolah gratis di AS”. Itulah personal statement. Tapi untuk amannya,
jangan percaya saya 100%. Coba cari sumber lain yang lebih meyakinkan.
-
Work
Example. Alias makalah. Alias musuh bebuyutan saya yang bikin saya kuliah
sampai 7 tahun. *sigh…. Yang diminta adalah makalah yang relevan dengan bidang
studi yang kita pilih. Boleh bikin makalah baru ataupun makalah yang sudah
dibuat untuk keperluan lain. Intinya, yang ingin dilihat adalah kemampuan kita
dalam menulis secara ilmiah. Syarat: karya sendiri, 8-10 halaman A4, spasi 2. Begitu
membaca syarat ini, otak culas saya langsung aktif: margin wide, font besar,
perbanyak gambar & kata sambung, panjang-panjangkan kalimat, dst. Namanya
juga usaha….Akhirnya saya minta bantuan ke peneliti berpengalaman yang
kebetulan juga adalah Dekan di kampus saya. Setelah bertapa telanjang dada 3
hari di depan laptop, keluarlah “pusaka”: makalah baru 7 halaman + 1 halaman
referensi tentang suatu penemuan yang heboh… di tahun 2009 (alias sudah basi). Ahhh,
peduli setan, pokoknya kirim saja, hehehe….
-
Hasil tes
TOEFL/ GRE/ GMAT*. TOEFL tau kan? Kalau GRE/ GMAT itu semacam tes potensi
akademik; GRE buat exact science seperti
MIPA & Psikologi sementara GMAT khusus untuk akuntansi. Sertifikat TOEFL tidak perlu dikirim lagi kalau di seleksi
berkas awal sudah dikirim.
*sebenarnya AMINEF
akan mendaftarkan kita untuk ikut TOEFL-iBT dan GRE atau GMAT sebagai tahap
berikut dari proses seleksi. Tapi kalau sudah pernah ikut tes tersebut, silahkan
mengirim sertifikat hasil tes yang masih berlaku.
Urusan kirim
mengirim file ke AMINEF juga cukup bikin pusing kepala. Penamaan file HARUS
ikut aturan mereka. Ukuran tiap file yang dikirim MAKSIMUM 1 MB sementara hasil
scan yang layak baca biasanya 1-2 MB. Kalau tidak patuh ya dijamin proses
seleksi kamu jadi kurang lancar. Putar otak lagi deh…,
Dibandingkan
tahap wawancara, tahap ini memang butuh lebih banyak “kerja”. Mulai dari urus
paspor, ikut TOEFL, bikin legalisiran, bikin work example, bikin revisi SO,
bikin PS, bikin resume, hadehhhhhh………….
Tapi kembali
lagi ke niat awal. Siapa sih yang bakal senang kalau modal cuap-cuap di MS Word
tahu-tahu ada yang mau kasih sekolah S2/ S3 gratis? Kamu kan?
---
bersambung ke part 4 ---
Tuesday, August 06, 2013
“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (Part 2. THE Interview)
Salah satu softskill
yang saya rasakan berkembang sepanjang mengikuti seleksi beasiswa Fulbright
adalah kemampuan untuk tidak menjadi gila akibat harap-harap cemas yang
bertubi-tubi. Sejak April 2012 hingga Juli 2012, tidak ada satu kabar pun dari
AMINEF mengenai berkas yang saya kirim. Saya sampai di suatu titik yang membuat
saya pasrah dengan kelanjutan kabar lamaran Fulbright saya. Anehnya, seperti
saat pedekate sama pacar pertama
waktu SMP dan saat mendaftar masuk universitas, justru “titik kepasrahan” ini
yang membuat kisah akhirnya terasa semakin manis. You feel nothing to lose; you finally expect the unexpected.
Saya ingat pagi itu saya memulai pekerjaan dengan duduk
menumpang di meja dosen senior, membuka email, dan YEAAAAAY…!!! Akhirnya datang
juga email dari AMINEF yang menyatakan berkas saya lulus dan meminta konfirmasi
jadwal wawancara. Saya senang bukan kepalang sampai-sampai saya teriak dan
mengangkat tangan; untung tidak ada orang lain disitu. Padahal tahapan seleksi
sebenarnya masih sangat panjang. Sampai saat ini pun, H-5 keberangkatan saya ke
Amerika, proses seleksi masih tetap berjalan seperti yang disampaikan Pak Anies
Baswedan ketika mengisi keynote speech
saat Pre-departure Orientation
beberapa bulan lalu. “Truthfully, one is
not a Fulbrighter until one board that airplane to U.S.”
Kembali ke masalah wawancara. Wawancara Fulbright diadakan
di kota-kota besar, termasuk di Makassar. Jadi saya tidak perlu keluar kota
untuk menghadirinya. Instruksi pra-wawancara tidak ada yang terlalu spesifik;
cukup hadir tepat waktu, pelajari Study Objective (lagi-lagi)
dengan baik, dan tidak usah tegang.
Yeah, easier said than done. O ya,
saya hampir lupa menambahkan bahwa kami diminta menyiapkan biosketch untuk keperluan wawancara. Biosketch ini semacam resume singkat 3 paragraf tentang latar
belakang pelamar, rencana bidang studi dan manfaat yang diharapkan setelah
selesai studi.
Pada hari yang dimaksud, saya datang ke hotel yang ditempati
wawancara dengan pakaian seperti mau ke resepsi. Uncomfortable clothing adds up the uncomfortable feeling. Tapi ya
sudahlah. Melihat beberapa pelamar keluar wawancara tidak sambil menangis, saya
mencoba menabahkan diri. “SO kamu yang buat, ilmunya kamu yang tahu. Jadi nggak
usah khawatir,” kata saya kepada diri sendiri. Sambil menunggu, ada dua pelamar
di samping saya. Satunya berasal dari kampus yang sama dengan saya, satu lagi
dari kampus di Kendari. Dari kami bertiga, saya giliran terakhir. Rekan
sekampus saya keluar dan menceritakan kondisi wawancaranya yang hampir dua kali
lebih lama dibanding yang lain. You know
what, it doesn’t help. Dan saya melanjutkan menunggu.
“Mr. Qushay Umar Malinta, please come in.”
Ada empat orang di ruangan. Yang duduk di ujung mbak Adeline. Dua orang profesor di tengah adalah alumni Fulbright. Satu bule di ujung lainnya adalah Fulbrighter AS yang sedang riset di Makassar.
“Apa isi study objective Anda? Apa Anda lebih suka tinggal di lingkungan kampus atau di luar kampus? Apa manfaat pendidikan Anda bagi masyarakat Indonesia? Apa Anda tegang? O, Anda tidak tahu tentang ini? Kenapa harus di USA? Apa Anda tahu siapa peneliti terpenting di bidang tersebut?”
Waktu terasa hilang. Massa kepala jadi berkali-kali lipat. Pensil jadi keriting di tangan saya. Semua teori relativitas Einstein terjadi selama 20 menit di ruangan itu.
Saya berusaha menangkap pertanyaan mereka, mengolah, mencerna, dan menjawabnya dengan kemampuan yang saya miliki. Saya mencatat pertanyaan, komentar & saran mereka di kertas yang disediakan. Tidak semua bisa saya jawab sesuai harapan, namun sebagian besar pertanyaan bisa saya komentari. Saya sangat yakin bahwa profesor berambut putih di depan saya ini, yang nada suaranya paling santai dan sorot matanya paling ringan, sudah meng-googling semua istilah yang ada di dalam SO saya. Saking tegangnya saya, ada satu pertanyaan dari beliau yang saya gagal saya jawab padahal itu adalah hal yang sangat mendasar di bidang saya. JANGAN IKUTI KESALAHAN SAYA. Keep calm, be yourself, and if you don’t know something you should, admit it.
Saya sudah membaca ratusan tips mengikuti wawancara. Saya sudah diwawancara dan mewawancara ratusan kali pula. Nyatanya saya tetap tegang dan mendapatkan konsekuensi pahit dari kondisi tersebut.
Saya pun keluar dengan tingkat kepasrahan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Somehow I felt confident, but I’m not sure what the interviewers felt about me. So, there you go…
Yang namanya “tegang” hanyalah sebuah state of mind, hanya sebuah perasaan yang kendalinya ada 100% di pikiran kita sendiri. So, control your mind, control your fate.
Hasil wawancara umumnya akan keluar sekitar akhir Agustus. Ada tiga kemungkinan hasil seleksi pada tahap ini, yaitu:
-
Not a candidate
-
Alternate candididate
-
Principal candidate
Bagi saya, hasil terburuk bukanlah not a candidate, melainkan alternate candidate; yang tengah-tengah dan samar-samar. Beberapa rekan saya yang alternate candidate mengakui bahwa status mereka sangat membuat orang harap-harap cemas. Sebab faktanya memang demikian; jika Anda adalah principal, kelulusan Anda di tahap berikutnya tergantung hasil tes TOEFL dan GRE/ GMAT Anda SAJA. Namun jika status Anda adalah alternate, Anda diberi harapan kelulusan yang bisa terwujud bisa juga tidak; tergantung hasil tes Anda DAN alokasi dana Pemerintah AS pada tahun anggaran tersebut.
Pada masa-masa menunggu hasil seleksi, nggak banyak yang bisa kita lakukan lagi selain berdoa dan meminta sebanyak-banyaknya orang agar mendoakan kita. Tiap kali ada yang bertanya tentang status kelulusan Fulbright kamu, jawablah dengan se-positif mungkin dan jangan lupa minta doanya. Ini yang saya lakukan sehingga Tuhan mengasihani saya dan menjawab doa orang-orang baik di sekitar saya.
Hasilnya? Email dari AMINEF tertanggal 23 Agustus 2012
“Dear Mr. Mallinta,
Congratulations! I
am extremely pleased to inform you that you have been officially nominated as a
principal candidate for a Fulbright scholarship to pursue study for a Master’s
degree in the United States commencing with the Fall 2013 academic term.
blablabla blablabla blablabla blablabla blablabla blablabla …
… …
Michael
E. McCoy
Executive
Director”
--- bersambung ke part 3 ---
Monday, August 05, 2013
“Lu??? Jadi Fulbrighter? Kok bisa?” (part 1)
“Lu??? Jadi
Fulbrighter? Kok bisa?”
Ya, itulah kata-kata salah seorang teman kuliah ketika mengetahui
saya lulus beasiswa Fulbright untuk sekolah Master (S2) di Amerika Serikat. Saya
tahu betul dia tidak bermaksud merendahkan karena dia tahu betul mahasiswa
macam apa saya ini ketika dulu kuliah S1.
Teman saya itu berkata-kata demikian karena dia mengetahui
dua fakta. Pertama: saya adalah mahasiswa-pemalas-tukang-bolos-dengan-IPK-pas-pasan-yang-lulus-karena-doa-dan-belas-kasihan-ribuan-orang.
Fakta kedua: Fulbright adalah salah satu beasiswa paling bergengsi (dan paling
memanjakan) yang ditawarkan buat orang Indonesia. Jadi dia bingung; kok bisa…?
Tulisan ini bukan untuk menjawab misteri Ilahi tersebut. Tulisan
ini saya maksudkan sebagai kilas balik setelah menjalani salah satu proses
seleksi terlama yang pernah saya alami: satu setengah tahun, man! Kayaknya cuma Nabi Syuaib AS yang
pernah ikut seleksi lebih lama daripada seleksi Fulbright ini…(kalau saya nggak
salah ingat kisah Nabi Syuaib AS, beliau itu dulu disuruh kerja sekitar 10
tahun sama seorang bapak baru dia boleh menikahi anak perempuan bapak itu). Syukur-syukur
jika ada yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya ini.
Mari kita mulai flashback
ini….
Part 1.
April 15th:
The Date You Really Must Remember!
Satu setengah tahun yang lalu saya mulai mengikuti proses
seleksi beasiswa Fulbright untuk tahun keberangkatan 2013. Proses itu dimulai pada
awal 2012 ketika perwakilan AMINEF (American
Indonesian Exchange Foundation, www.aminef.or.id)
mulai berkeliling Indonesia untuk menyebarkan informasi tentang beasiswa Fulbright
yang mereka tangani. Mbak Adeline, staf AMINEF yang kebagian datang ke kampus
saya, mengatakan syarat utama pendaftar Fulbright haruslah:
-
IPK S1 3,00
o
Saya: IPK
S1 = 2,91; IPK profesi = 3,32. Kalau dirata-ratakan = 3,115. Nyarisss…
-
Bisa memimpin
o
Saya: mantan
ketua OSIS SMP-SMU & ketua ekskul bantuan medis di kampus. Cukup meyakinkan…
-
Mengerti budaya Indonesia & budaya dunia
o
saya: nggak
bisa bahasa daerah manapun, tapi saya ikut tim tari dan tim paduan suara waktu
SMP dan SMA. Don’t ask.
-
Menunjukkan komitmen di bidang yang diminati
o
Saya:
komitmen terbukti dengan menjadi mahasiswa 7 tahun.
-
Mau pulang ke Indonesia kalau program sudah
selesai.
o
Saya: mau
bangetlah, siapa yang nggak kangen sama coto Makassar, sop buntut, mie Aceh,
dan segambreng makanan Indonesia yang enak-enak itu.
-
Bahasa Inggris nggak jelek-jelek amat (kalau ITP
minimal 550; IBT minimal 79, IELTS minimal 6,0)
o
Saya: berkat
nonton DVD sewaan SETIAP MALAM selama kuliah, nilai TOEFL ITP saya di atas 550.
Lumayannnn….
Jadi dengan kondisi demikian, saya iseng-iseng mendaftar
beasiswa tersebut. I mean, siapa sih
yang nggak mau sekolah gratis, di Amerika pula?! Dengan semangat iseng-iseng (karena
tidak yakin bisa lulus seleksi pertama) saya mulai melengkapi daftar dokumen
yang harus dikirimkan ke AMINEF. Semuanya ada di formulir seleksi pendahuluan yang
saya unduh dari situs AMINEF.
Ada belasan program beasiswa yang ditawarkan, mulai dari yang
buat pertukaran pelajar SMU, pertukaran mahasiswa S1, beasiswa S2, beasiswa S3,
beasiswa penelitian S3, banyak banget deh pokoknya. Saya fokus ke Master’s
Degree program karena memang saya baru lulus S1. Itupun Master’s degree
scholarship ada macam-macam; ada yang
untuk umum, ada buat yang berasal dari Papua, ada yang khusus bidang eksakta,
ada yang kerjasama dengan DIKTI (DIKTI = Direktorat Pendidikan Tinggi à ini khusus buat dosen
dan duitnya dari Pemerintah Indonesia, bukan dari Pemerintah AS), dan
lain-lain. Untuk setiap program ada deadline mengirimkan berkas. Yak, betul
deadline program saya adalah tanggal 15 April 2012.
Formulirnya menyuruh saya melengkapi dokumen seperti hasil
TOEFL/ IELTS, rekomendasi dari atasan atau dosen waktu kuliah dulu, sama Study Objective (SO). SO ini yang
paaaaaaaaaaaaaaaallllllllllllllllliiiiiiiiiiiiiinnnnnnnggggggggggg penting.
Saking pentingnya, saya disuruh revisi SO sampai 6 kali sama staf AMINEF. Ini
demi kebaikan pelamar juga sih, soalnya SO inilah yang akan dikirim ke universitas-universitas
di Amerika dan menjadi salah satu alasan kuat penerimaan (atau penolakan) lamaran
tersebut.
Ada banyak tips membuat SO Fulbright di internet. Tips yang
paling penting: JANGAN COBA-COBA COPY-PASTE
STUDY OBJECTIVE ORANG LAIN!!! Di negara kita, hal ini sangat sering
diacuhkan oleh pihak yang berwenang. Tapi di Amerika, copy-paste = plagiarisme
dan kultur mereka sangat membenci plagiarisme. “Trus, gimana dong??? Mana saya
dulu tiap kali bikin makalah minimal seperempatnya ngopi punya temen…”
Tenang, kawan. Niat baik harus diikuti langkah baik pula. Saya
juga dulu termasuk mahasiswa yang paling malas bikin makalah. Untungnya mbak
Adeline ngasih semacam “insider tips” buat kita-kita yang mau nyusun Study
Objective buat ngelamar Fulbright. Here
they are:
- -
MAKSIMUM 1 (SATU) HALAMAN. They can’t stress this enough. Kenapa? Ada puluhan ribu pelamar Fulbright
dari seluruh dunia. Kalau SO kita lewat dari 1 halaman, jangankan dibaca, SO
kita bakal langsung di-skip…
- -
Uraikan alasan spesifik mengenai hal berikut:
o
Kenapa kita memilih program studi/ bidang itu
o
Kenapa bidang itu cocok dengan latar belakang
pendidikan kita
o
Kenapa harus di AS. Berikan ALASAN RASIONAL dan
BUKAN MENJILAT.
§
Ini contoh alasan rasional: saya mau ke AS
karena penemuan terbaru di bidang X yang saya minati diteliti oleh Profesor Y
yang bertugas di universitas Z di Amerika Serikat.
§
Ini contoh menjilat: saya mau ke AS karena AS
adalah negara paling maju, paling hebat, paling banyak penerima Nobel-nya,
paling ini, paling itu, karena Presiden Obama pernah masuk SD di Menteng (apa coba?!)…
-
- Uraikan cita-cita/ rencana keterlibatan dalam
masyarakat Indonesia sepulang studi nanti. Jelaskan apa sih manfaat menerima
beasiswa Fulbright bagi diri pribadi kita, bagi institusi, bagi masyarakat di
wilayah kerja/ tempat tinggal kita dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya.
-
- Kembali ke tips nomor 1: MAKSIMUM SATU (1)
HALAMAN.
Jadi untuk membuat agar semua informasi
tadi muat diketik dalam 1 halaman, bisa menarik minat orang Amerika yang SAMA
SEKALI nggak mengenal kita maupun kualitas pribadi kita tanpa kita perlu datang
bawa kue, oleh-oleh ataupun sesajen, memang butuh putar otak dan banting
tulang.
O ya, the last thing about SO.
Make sure your SO is written in the MOST PERFECT English! Minta bantuan keluarga,
teman, atau siapapun itu yang kamu yakin bahasa Inggris-nya tidak ada cacatnya.
Kalau perlu bayar penerjemah tersumpah untuk meng-Inggris-kan SO kamu.
Kedengarannya susah? Bung, ini belum
apa-apa! Ini sama sekali belum apa-apa!
Ada kalimat sakti yang terus
menerus saya putar ulang di kepala selama satu setengah tahun terakhir: “mau sekolah gratis di Amerika yang emang
harus berjuang kayak gini. There’s no such thing as a free lunch!!!”
Dokumen lain yang tidak kalah
penting adalah rekomendasi. Di tahap
ini, kita cuma diminta memasukkan rekomendasi dari satu orang. Boleh atasan di
tempat kerja saat melamar, boleh juga dosen kita saat kuliah dulu. Kalau kamu
pernah minta rekomendasi sama “orang penting” kamu pasti pernah dengar kalimat
ini, “Ya sudah, mana rekomendasinya saya tandatangan, isinya kamu tulis
sendirilah!” Da*n! Disuruh mengarang-tapi-tidak-bebas lagi….
Maksud saya begini: kalau di
rekomendasi itu kita terlalu memuji diri, pasti langsung ketahuan kalau yang
menulis rekomendasi itu bukan orang yang menandatanganinya. Tapi kalau kita 1000%
objektif menilai diri sendiri, kita bakal menulis berbagai kekurangan kita yang
mungkin bakal bikin penyeleksi mikir 1000 kali buat nerima lamaran kita. Jadi
kuncinya ada di pemilihan kata-kata.
Saya nggak bisa menjelaskan ini dengan
baik karena kamu harus mengalami sendiri pergulatan batin dalam memilih
kata-kata yang pas buat dituliskan di rekomendasi itu. Ingat, para penyeleksi di
AS bakal membaca rekomendasi itu dan akan MENILAI KUALITAS KITA DARI SITU SAJA,
setidaknya untuk permulaan.
Ingat juga bahwa kalau kamu lulus
seleksi berkas awal, kamu akan diminta 2
rekomendasi tambahan lagi. Jadi, jangan menuliskan SEMUA keunggulan kamu
yang kamu rasa betul-betul ada di dirimu dalam satu rekomendasi. “Tabunglah” sebagian
keunggulan itu buat dimasukkan dalam 2 lembar rekomendasi berikutnya. Rekomendasi
saya dari siapa saja? Yang pertama dari Dekan tempat saya bekerja, yang kedua
dari Wakil Dekan II (Bagian Kepegawaian, Logistik &Keuangan) tempat saya
bekerja, dan yang ketiga dari profesor yang dulunya adalah Wakil Dekan Urusan
Kerjasama dan Pengabdian Masyarakat di tempat saya kuliah.
Sebagai dokumen tambahan,
boleh-boleh saja kamu masukkan fotokopi semua piagam/ sertifikat/ dokumen apapun
yang menjadi BUKTI KEGIATAN EKSKUL SELAMA KULIAH (piagam dari jaman kamu TK
nggak perlu dimasukkan, bisa-bisa nanti ada ratusan lembar). Kalau mau masukkan
piagam aslinya juga boleh sih, tapi jangan harap piagam itu dikembalikan sama
AMINEF.
Kalau formulir sudah terisi
lengkap, SO sudah rapi-jali, rekomendasi sudah “sempurna ketidaksempurnaannya”,
sertifikat TOEFL sudah di tangan, dan piagam sudah dikopi; berkasmu JANGAN
CEPAT-CEPAT DIKIRIM! Buat semua dokumen kamu dalam 2 rangkap: 1 rangkap
dikirim, 1 jadi arsip pribadimu. Kalau perlu buat juga arsip digitalnya (simpan
semua file/ hasil scan dokumen).
JANGAN MENGIKUTI KESALAHAN SAYA. Ada
dua kesalahan besar saya:
1.
1. Saya nggak kepikiran buat nyimpan arsip berkas
pertama ini. Belakangan saya menyesal karena lupa apa yang sudah saya tulis di
SO & di rekomendasi, piagam apa yang sudah saya kirim, de el el, de es be.
Jadi, BUAT ARSIP!
2.
2. Saya melewati deadline. Karena kebiasaan menunda-nunda yang kronik dari jaman
kuliah, saya baru mengisi formulir, menyusun SO, mengkopi PADA MALAM TANGGAL 15
APRIL 2012, yang ternyata adalah hari Minggu!!! Hari Minggu = nggak ada jasa
pengiriman yang buka. Goblok kan? Jadi, KERJAKAN DARI AWAL!
Hanya Allah Yang Maha Kuasa yang meluluhkan
hati para staf AMINEF agar mau menerima berkas saya yang baru dikirim tanggal
16 April, padahal nyata-nyata tertulis di situs mereka, “Late or incomplete application will not be considered!”
Sekian dulu cerita saya untuk part
1 ini. Kalau saya nggak malas ngetik, saya bakal buat part-part selanjutnya
yang sudah saya lalui dalam 1,5 tahun terakhir, yaitu:
-
- Wawancara Fulbright
-
- Seleksi berkas tahap II
-
- Tes TOEFL-IBT, GRE & GMAT.
-
- Memilih universitas di Amerika
-
- Menunggu jawaban dari Amerika
-
- Pre-departure Orientation
-
- Menunggu keberangkatan
See you when I see you :P
Subscribe to:
Posts (Atom)